Pasalnya, ia mengaku hampir dari semua masyarakat di Mahulu menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, sehingga potensi ini ia nilai bisa dijadikan ladang tempat bertumbuhnya ekonomi masyarakat Mahulu jika dibawa ke Ibu Kota Nusantara (IKN).
Dengan adanya IKN, pria kelahiran Sirau itu berharap Mahulu bisa jadi kabupaten penyangga, dan IKN juga diharapkan bisa memberi kontribusi positif ke wilayah terjauh seperti Mahulu.
"Terutama pembangunan yang ada di IKN itu, misalnya di Mahulu ini masih luas. Intinya bisa lah menjadi sumber, untuk di sana. Khususnya alam menyiapkan produk-produk pertanian yang bisa di pasarkan di IKN," ucapnya.
Terpisah, menanggapi hal tersebut Plh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Mahulu, Bernadetha Buaq menyampaikan, hingga saat ini pihaknya terus berupaya mendorong usaha pertanian di Mahulu.
Meski ia mengakui mindset masyarakat masih menjadi kendala dia dan timnya untuk membangkitkan semangat para petani di Mahulu untuk memasarkan hasil pertanian mereka ke khalayak umum.
"Salah satu yang menjadi kendala kita sampai saat ini SDM (Sumber Daya Manusia) kita. Petani kita. Tapi kita tetap berusaha sih, supaya kita bisa menjadi pendukung IKN kan," paparnya saat dikonfirmasi Korankaltim.com Senin (18/3/2024) hari ini.
Pola pikir masyarakat yang cenderung bertani untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga saja membuat dia dan timnya berinisiatif untuk terus mendorong semangat para petani melalui program pertanian.
Program tersebut dibuat dengan mengharuskan para petani di tiap tahunnya membuka lahan sebanyak dua hektare untuk ditanam padi gunung sebagai penguatan kualitas produksi petani.
"Itu digelar setiap tahun itu karena merupakan program khususnya pak Bupati, itu tetap dilaksanakan sampai selesai. Jadi sekarang ini masih ada," ucapnya.
Hal itu ia katakan sebagai salah satu cara Pemda agar masyarakat tetap senang bertani. Dengan menanam padi dianggap bisa memberikan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
"Jadi untuk menghasilkan untuk menjadi penghasilan keluarga itu agak minim, hanya ada beberapa mungkin hanya 10 persen saja yang menjadikan itu untuk mata pencahariannya," pungkasnya.
Editor: Maruly Z