Kabupaten termuda di Benua Etam ini memang memiliki ciri khas tersendiri dalam adat istiadat di kalangan masyarakatnya. Baik dari segi pelaksanaan sebuah ritual adat serta pemaknaan-pemaknaan yang diberikan dalam benda yang digunakan dalam sebuah adat yang menyertakan ritual.
Seraung memang menjadi ciri khas masyarakat Dayak di Kalimantan dalam kehidupan sehari-hari. Memiliki ukuran yang lebar dan sekilas mirip bagaikan topi caping khas Pulau Jawa, benda ini banyak ditemui di kawasan Kalimantan termasuk Mahulu yang biasa disebut dengan nama cohong atau hong.
Meski terbuat dari daun biru atau biasa dikenal dengan nama Samet dalam suku Dayak di Mahulu, benda ini justru memiliki makna yang dalam bagi siapa saja yang menggunakannya dalam sebuah ritual adat.
Seperti dalam sebuah perayaan ritual pernikahan, pemberian nama anak, kematian, pengobatan, dan ritual-ritual adat Dayak khusus lainnya.
Makna agar tak kena tulah dari sang leluhur itu dipercaya ketika seraung digunakan dalam sebuah ritual adat oleh satu atau dua orang tertentu.
Sebagaimana ketika seseorang diseraungkan, itu memberi tanda bagi leluhur bahwa orang tersebut sedang mengikuti jalannya sebuah acara adat agar tak kena tulah.
Nyangun Duhmo, tokoh adat di Mahulu saat dikonfirmasi Korankaltim.com, (6/3/2024) hari ini menjelaskan hal tersebut. “Misalnya seperti di acara nikah adat, itu ada dua orang yang nikah terus dipasang seraung. Itu bukan untuk pelindung saja tapi tanda untuk leluhur kalau mereka dua lagi jalankan adat besar dalam acara nikah adat,” ucap Nyangun
Hal itu dipercaya sebagai bentuk kesopanan masyarakat Dayak kepada leluhur yang sudah menurunkan secara turun temurun adat istiadat yang sampai saat ini dijaga. “Jadi kalau tidak pakai itu sama saja kita melanggar aturan leluhur. Seraung itu kan dari dulu harus dipakai, apalagi dalam acara sakral,” terangnya.
Hal ini menunjukkan adanya nilai budaya antara manusia dengan alam sebagaimana masyarakat Dayak sejak dulu selalu menggantungkan hidupnya dengan alam, baik untuk bercocok tanam, maupun pemanfaatan untuk pemenuhan sandang dan pangan dalam bertahan hidup.
Editor: Aspian Nur