Perlu diketahui, memanjangkan telinga sejak kanak-kanak pernah menjadi ciri khas sebagian perempuan Dayak di pedalaman Kalimantan Timur (Kaltim), khususnya di Mahakam Ulu (Mahulu).
Kebiasaan ini dilakukan dengan berbagai tujuan antaranya sebagai simbol status sosial yang merujuk pada orang yang berketurunan kebangsawanan. Misalnya, semakin panjang telinga seorang perempuan, semakin penting pula peran yang bersangkutan bagi sukunya. Selain itu, ini juga merupakan simbol kesabaran dan kecantikan.
Namun, kebiasaan itu justru hampir tidak lagi ditemukan saat ini khususnya bagi gadis remaja Dayak melainkan hanya perempuan yang lanjut usia (lansia). Telinga panjang yang sudah menjadi ciri khas bagi perempuan dan pria Dayak ini akan digaungkan ke kancah internasional oleh Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Mahulu.
Kadisparpora Mahulu, Yason Liah mengatakan, budaya lokal di Mahulu memang memiliki potensi yang baik dan bagus untuk dilestarikan. Tradisi telinga panjang yang hampir punah di kabupaten Mahulu, sehingga Yason menilai jika suatu budaya tidak dikemas maka pelestariannya juga tidak akan ada.
Terancamnya tradisi di era modern ini pihaknya akan menghadiri undangan dari suatu negara di Asia untuk dilakukan pemotretan secara langsung terkait telinga panjang. Sehingga nantinya dia berencana akan mendorong tradisi ini untuk digaungkan sampai ke taraf internasional sebagaimana dia mengaku telinga panjang adalah sebuah kearifan lokal yang harus dikembangkan.
"Tapi juga kalau memang itu dipenuhi, dan kalau kita bisa melakukan itu, tentu banyak hal yang perlu dilakukan di sektor kepariwisataan," sebutnya, Kamis (22/2/2024).
Namun, dia berharap dengan terlibatnya negara asing untuk mengekspos budaya lokal di Mahulu, maka dia ingin budaya-budaya lainnya di Mahulu juga bisa di ekspos sampai mendunia.
"Karena supaya diketahui oleh masyarakat dan dunia juga termasuk seperti dunia internasional, harus tahu terkait dengan begitu kayanya Mahulu," jelasnya.
Editor: Maruly Z