Sebanyak 10 ribu durian disediakan secara gratis, memancing antusiasme masyarakat yang membuat tumpukan durian habis dalam waktu 15 menit. Tak perduli duri yang tajam, warga berebut mendapatkan buah dengan nama latin durio zibethinus itu.
Festival yang telah berlangsung untuk kelima kali ini dihadiri pejabat pemerintah, pegawai dan Juara Pemilihan Putri Kaltim 2024 Kori Aprilia.
Dalam festival ini digelar berbagai kegiatan menarik seperti lomba makan durian, lomba durian unggul, kuliner durian, dan fashion show bertema durian. Sayangnya rencana pemecahan rekor dunia (MURI) dibatalkan karena musim durian yang sudah memasuki penghujung.
Kepala Dinas Pariwisata Kutai Barat Yuyun Diah Setiorini kepada Korankaltim.com menjelaskan, mereka belum siap untuk pemecahan rekor karena sibuk. “Musim durian juga sudah dipenghujung, tapi mudah-mudahan tahun depan kami dapat melaksanakannya," harap Yuyun.
Festival Durian di Kutai Barat akan terus dilaksanakan ke depan untuk memperkenalkan durian keluar daerah. "Durian merupakan produk unggulan khas Kutai Barat sehingga dapat meningkatkan ekonomi kreatif dan ekonomi masyarakat," ucapnya.
Beberapa kecamatan di Kutai Barat, seperti Nyuatan, Tering, Long Iram, Manor Bulatn dan Barong Tongkok, menjadi sentra penghasil durian saat musim durian, mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.
Bupati Kutai Barat, FX.Yapan, memberikan apresiasi untuk Festival Durian tahun 2024. Ia membanggakan buah durian asli Kutai Barat yang memiliki kualitas terbaik di Kalimantan Timur.
Durian asli Kutai Barat memiliki keunikan mulai dari cita rasa, daging, tekstur buah yang tebal, hingga varian warna seperti durian putih, kuning dan durian mentega.
Meskipun beberapa lahan penghasil durian beralih fungsi, Yapan bertekad untuk melindungi kampung-kampung yang masih memiliki pohon durian. "Kami mau membudidayakan durian alam supaya jangan sampai habis dibabat sawit," kata Yapan.
Yapan juga mendorong pengembangan produk durian dalam bentuk lain seperti permen, krupuk, roti, atau jus durian, untuk meningkatkan ekonomi kreatif dan ekonomi masyarakat di Kutai Barat.
Editor: Aspian Nur