Yohanes Avun yang juga Wakil Bupati Mahulu itu menilai penyuluh stunting di Mahulu sebenarnya tidak banyak, sehingga dia menganggap kasus stunting kemungkinan besar bisa diturunkan mencapai nol persen.
Dia juga mengatakan, turunnya angka stunting bisa saja dilakukan karena dilihat dari segi pemenuhan gizi di Mahulu ia anggap sudah cukup lengkap. “Makan minum kita di sini tidak kekurangan. Apa saja bisa dijadikan makanan,” sebutnya.
Namun meski demikian jelasnya, jika dari pemenuhan gizi lengkap akan tetapi peran pola asuh dalam hal ini tidak diterapkan maka bisa-bisa saja kasus stunting di Mahulu naik. Dia menganggap, bisa saja terjadi dari pola asuh orang tua yang dipengaruhi dengan perkembangan zaman, sehingga terlalu asyik dengan gadget dan pada akhirnya tidak memperhatikan pola makan anaknya.
“Orang tuanya main Hp kemudian tidak memperhatikan anaknya makan, atau ada bantuan untuk orang yang terkena stunting tapi malah diberikan ke keluarganya” tambahnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, yang membutuhkan bantuan adalah orang-orang yang terkena stunting sehingga hal itu ia anggap harus dilakukan pemetaan dari segi penanganan. Misalnya, pemberian pemenuhan gizi harus diberikan kepada penderita stunting, bukan justru keluarga atau orang tua dari penderita stunting.
Meski kasus stunting untuk tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Mahulu terbilang rendah dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya lantaran target nasional sebesar 14 persen, namun di Mahulu kasus stunting masih di angka 14,8 persen sehingga dia menyebut pihaknya optimis menurunkan angka stunting di Mahulu menjadi 12 persen.
Editor: Maruly Z