Hal ini menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Mahulu, dr Petronela Tugan MKes wajar terjadi karena Ibu Kota Kabupaten saat ini sudah menjadi daerah perkotaan dan sudah mulai padat penduduk.
“Mungkin hampir seribu setiap tahunnya pertambahan penduduk khusus di Kecamatan Long Bagun, tapi itu bukan kelahiran melainkan mobilisasi penduduk,” jelas Tugan kepada Korankaltim.com Jumat (3/11/2023) hari ini.
Dinkes Mahulu terus berupaya mengendalikan lingkaran atau siklus hidup nyamuk dengan cara melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) mengingat kondisi cuaca yang terkadang tidak stabil.
Untuk tahun ini, jumlah kasus DBD di Mahulu tercatat 118 kasus yang relatif lebih menurun meski terdapat puncak kasus di bulan April sebanyak 40 kasus. Namun angka kasus tersebut berhasil diturunkan, pada Mei 25 kasus, Juni 6 kasus, Juli 6 kasus, Agustus 10 kasus, September 9 kasus, dan Oktober 10 kasus. Angka tersebut dinyatakan menurun karena pada tahun 2022 angka kasus DBD di Mahulu pada saat itu cenderung tinggi dan berada di angka 140 secara keseluruhan. Dipastikan sejak puncak kasus terjadi April dari nominal yang telah disebut cenderung lebih stabil dan menurun meski di bulan Oktober mengalami kenaikan.
Berbeda dengan penyakit DBD, penyakit malaria di Mahulu saat ini malah sudah tereliminasi sehingga Dinkes Mahulu sampai saat ini tetap melakukan upaya-upaya dalam mencegah timbulnya malaria yaitu dengan melakukan screening bagi pendatang yang berasal dari daerah endemis yang berpotensi membawa plasmodium malaria.
Editor: Aspian Nur