Oleh karena itu, setiap kali mereka mudik ke hulu Mahakam diwajibkan untuk membasuh muka dan meminum air yang berasal dari Sungai Bo, termasuk bagi warga Dayak Kayan yang pertama kali menginjakkan kakinya di hulu Mahakam. Hal ini disampaikan oleh seorang tokoh suku Kayan di Desa Laham, Yuliana Angin Dasa.
Angin menyebut, ritual atau kebiasaan itu dilakukan untuk memberi tanda bagi leluhur yang berada di Sungai Bo, sebagaimana masyarakat suku Dayak Kayan mempercayai di Sungai Bo adalah tempat leluhur ataupun dewanya suku Dayak Kayan tinggal.
"Oleh karena itu, Sungai Bo dahulunya disebut Sungai Kayan, tempat asal mula kakek nenek moyang kita berasal. Tetapi sekarang dikenal dengan nama Sungai Bo. Makanya, sekarang kita banyak mengenal sebutan masyarakat Dayak Kayan Hulu dan Kayan Hilir karena di dalam Sungai Bo itu terdapat anak-anak sungainya," tutur Angin, Selasa (17/10/2023).
Ia menjelaskan, ritual itu juga rutin dilakukan masyarakat suku Dayak Kayan setiap kali berkunjung ke Hulu Mahakam, baik dalam rangka mengunjungi keluarga yang sedang berduka atau ikut serta meramaikan ritual-ritual adat besar yang berada di Desa Long Pakaq, desa utama suku Dayak Kayan yang ada di Mahulu.
Lebih lanjut ia menyebut, hal ini penting dilakukan untuk memberikan keberlanjutan hidup yang lebih baik sebagaimana dipercaya seperti aliran air Sungai Bo yang begitu deras mengalir ke Sungai Mahakam begitu juga rezeki, hidup dan jasmani yang sehat akan mengalir dalam diri setiap orang yang mengusap air Bo ke wajahnya dan diminum.
"Karena kita tidak pernah sampai di ujung Sungai Bo, jadi kita harus menyantap airnya yang mengalir ke Sungai Mahakam," katanya kepada korankaltim.com.
"Kalau sudah sampai di hilir Sungai Bo, airnya diambil dan basuh ke muka setelah itu diminum untuk disantap sebanyak satu kali. Setelah itu, katakan 'seperti derasnya air di Sungai Bo ini, begitu juga rezeki yang melimpah di atas hidup saya. Hidup yang sukses, jiwa dan jasmani yang sehat'," pungkasnya.
Editor: Maruly Zainuddin