Tas ini disebut juga bakun bavat yang memiliki arti bakun (kantung) dan bavat (hambur/tabur) yang di gunakan tak hanya untuk menyimpan sirih pinang tapi juga untuk menaruh benih padi saat berladang.
Berawal dari situ terbentuk ide untuk memodifikasi kerajinan rotan menjadi barang yang memiliki nilai jual tinggi.
Kerajinan rotan sudah sejak dahulu menjadi sumber kehidupan bagi Suku Dayak karena dibuat menjadi berbagai macam bentuk untuk kebutuhan mereka dan dibawa berladang juga keperluan lain.
Para pengerajin tas dari rotan ini berkumpul di rumah panggung di Kampung Long Bagun Ilir setiap hari selepas berladang.
Seiring berjalannya waktu, kerajinan rotan ini menjelma menjadi produk yang bagus dan berkualitas. Contoh - contoh kerajinan yang berkembang seperti tas modern, dompet, tas handphone dan masih banyak lagi.
“Kami membuat banyak kerajinan, seperti tas,anjat, dompet dan lainnya,” kata Maria Unyang, pengerajin rotan di Long Bagun kepada Korankaltim.com Rabu (12/10/2022) siang tadi.
Harga setiap kerajinan rotan yang dibuat berbagai bentuk ini cukup murah, kisaran Rp300 sampai Rp500 ribu. Dengan harga jual tersebut Maria mengaku per bulan bisa mendapatkan omset sebesar Rp10 juta sampai Rp15 juta.
Selain berladang ada sekitar 20 ibu-ibu di kampung tersebut yang menjadikan kerajinan rotan ini sebagai penghasilan dan memenuhi kebutuhan hidup sehari - hari.
“Selain mereka berladang sampingan mereka ya membuat kerajinan tangan ini,” ucap Maria
Hanya saja Maria mengaku sedikit prihatin karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap pengerajin rota ini. Bayangkan saja, mereka harus mencari bahan dasar dari hutan berhari-hari lalu di olah dengan cara tradisional yang memakan waktu cukup lama.
“Saya sudah bertahun - tahun meminta mesin rotan hingga saat ini saja tidak ada respon dari mereka,” ungkap Maria.
Banyak peminat yang antusias dengan kerajinan tangan ini, dari Sabang hingga Merauke bahkan dari luar negeri, diantaranya dari Malaysia. Perkembangan yang cukup pesat bagi kampung kecil yang berada di Mahulu.
Maria sendiri mengharapkan kerajinan rotan ini lebih dikenal banyak orang dan beberapa anak muda bisa ikut serta agar kerajinan ini tak lekang di makan waktu.
“Saya mengharapkan agar para anak muda ini bisa meneruskan kerajinan seperti ini. Semoga Long bagun Ilir menjadi pusat kerajinan yang besar,” pungkas Maria.
Penulis: Jerry Lukas
Editor: Aspian Nur