Melansir dari laman The Washington Post Jumat (28/11/2025) hari ini, beberapa penelitian menunjukkan terus-menerus memeriksa ponsel dapat mengganggu kemampuan kognitif. Sebuah studi dari Singapore Management University menyimpulkan seringnya interupsi untuk memeriksa perangkat dapat meningkatkan rentang perhatian dan penurunan daya ingat.
Pemeriksaan layar yang berulang ini diidentifikasi sebagai prediktor utama penurunan kognitif harian. Kebiasaan membuka kunci ponsel secara terus-menerus memaksa otak untuk beralih antartugas dengan cepat sehingga sulit untuk tetap fokus pada satu aktivitas.
Gerald M. Weinberg, seorang ilmuwan computer memperingatkan beberapa dekade lalu kalau melakukan banyak tugas sekaligus dan sering berpindah tugas dapat mengurangi produktivitas hingga 80 persen.
Fenomena memeriksa ponsel telah menjadi begitu otomatis sehingga banyak pengguna meremehkan seberapa sering mereka melakukannya.
Menurut data, studi yang dilakukan di Inggris dan Korea Selatan menunjukkan memeriksa ponsel sekitar 110 kali sehari dapat menandakan penggunaan yang bermasalah.
Larry Rosen, seorang psikolog yang mengkhususkan diri dalam teknologi mengamati selama delapan tahun penelitian remaja dan dewasa muda membuka kunci ponsel mereka antara 50 dan lebih dari 100 kali sehari dengan interval rata-rata 10 hingga 20 menit selama jam terjaga.
Meskipun demikian, survei YouGov mengungkapkan sebagian besar responden meyakini mereka hanya memeriksa perangkat mereka sekitar 10 kali sehari, yang menunjukkan persepsi yang menyimpang tentang perilaku mereka sendiri.
Ketergantungan kepada ponsel mengaktifkan sirkuit otak yang sama dengan kecanduan lainnya. Anna Lembke, seorang psikiater dan pakar kecanduan mencatat kalau ponsel dan media digital memperkuat otak, mengaktifkan jalur penghargaan yang sama seperti narkoba dan alcohol.
Siklus kompulsif ini menciptakan lingkaran kebiasaan di mana seseorang secara otomatis memeriksa perangkatnya dan mengalami gejala putus asa ketika tidak dapat mengaksesnya.
Kebutuhan akan koneksi yang konstan meningkatkan produksi zat seperti kortisol , yang berkaitan dengan kecemasan yang mendorong orang untuk memeriksa ponsel mereka lebih dari 100 kali sehari.
Penggunaan ponsel yang intensif tidak hanya terjadi pada anak muda. Sejak kemunculan ponsel pintar pada tahun 2007, kebiasaan memeriksa perangkat telah menyebar ke semua generasi.
Sebuah studi terbaru oleh Pew Research Center menunjukkan mayoritas orang dewasa di Amerika Serikat memiliki ponsel pintar dan sembilan dari sepuluh orang menggunakan internet setiap hari.
Rosen menekankan perbedaan generasi dalam penggunaan telepon telah berkurang secara signifikan, dan bahwa ketergantungan pada konektivitas digital memengaruhi orang-orang dari segala usia secara setara.
Penggunaan ponsel yang sering berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari dan lingkungan kerja. Menurut data YouGov, lebih dari separuh responden survei di Amerika Serikat memeriksa perangkat mereka beberapa kali selama aktivitas sosial seperti makan atau berkumpul dengan teman.
Di dunia profesional, satu dari empat peserta dalam rapat berdurasi 30 menit mengaku memeriksa ponsel mereka setidaknya sekali.
Gloria Mark, seorang peneliti ilmu komputer, memperingatkan setelah setiap gangguan kerja, dibutuhkan waktu lebih dari 25 menit untuk mendapatkan kembali konsentrasi .
Lebih jauh lagi, penelitian dari Universitas Heidelberg mengungkapkan setelah hanya 72 jam tanpa menggunakan telepon pintar, aktivitas otak mulai menunjukkan pola yang serupa dengan yang diamati dalam penghentian penggunaan zat yang menunjukkan besarnya ketergantungan digital.
Para ahli mengusulkan strategi sederhana untuk mengurangi ketergantungan pada ponsel . Beberapa rekomendasinya antara lain menonaktifkan notifikasi, menghapus aplikasi yang tidak diperlukan, mengubah tampilan layar menjadi skala abu-abu dan mematikan perangkat di antara penggunaan.
Anna Lembke juga menyarankan untuk sesekali meninggalkan ponsel di rumah sebagai pengingat seseorang tetap bisa beraktivitas tanpanya. Para ahli sepakat periode singkat tanpa perangkat dapat membantu mengatur ulang kebiasaan dan mengurangi kompulsi.
Mendapatkan kembali kendali atas seberapa sering memeriksa ponsel dan mengatur jeda teknologi sesuai pilihan sendiri dapat membuat perbedaan dalam kualitas perhatian dan ingatan dalam kehidupan sehari-hari.
Editor: Aspian Nur