Menurut artikel terbaru dari The Guardian yang dilansir Kamis (27/11/2025) hari ini, bawang putih awalnya dibudidayakan di Asia Tengah, dari sana menyebar ke Eropa dan akhirnya mencapai Amerika Serikat melalui berbagai gelombang migrasi.
Ekspansi ini bukan hanya karena kemudahan budidaya dan penyimpanannya, tetapi juga karena kemampuannya untuk berintegrasi dengan budaya tempat ia menemukan rumah baru.
Penyebaran bawang putih semakin pesat seiring orang-orang dari Asia membawa manfaat kuliner dan pengobatannya ke wilayah lain. Umbi bawang putih dengan cepat meresap ke dalam selera dan kepercayaan di Eropa dan kemudian Amerika, yang akhirnya mengukuhkan kehadirannya secara global, dimana tumbuhan itu “sangat dihormati” baik dalam kuliner kelas atas maupun pengobatan tradisional.
Keunggulan bawang putih dalam gastronomi modern tak terbantahkan. Bagi Poul Erik Jenson , seorang koki Denmark dan profesor di Sekolah Gastronomi Prancis di Prancis, bawang putih sangat penting.
"Saya rasa mereka [orang Prancis] tak bisa membayangkan hidangan gurih tanpa bawang putih. Dari kaldu hingga sup, dan dalam hidangan sayur atau daging, pasti ada satu siung bawang putih di suatu tempat. Rasanya tak terbayangkan jika tak menggunakannya," ungkap Jenson.
Jenson, yang tumbuh di pedesaan Denmark di mana bawang putih hampir tidak dikenal pada tahun 1970-an, menyoroti bagaimana migrasi dan pengaruh masakan asing seperti masakan Italia menormalkan penggunaannya.
"Saya dan pasangan saya minum secangkir kaldu di pagi hari dengan satu kepala bawang putih utuh yang diperas ke dalam setiap cangkir. Kami belum pernah pilek atau flu parah, dan saya yakin itu berkat bawang putih," ungkapnya.
Sejarah bawang putih sarat dengan makna spiritual dan pengobatan yang berasal dari zaman kuno. Di Yunani kuno, bawang putih dipersembahkan kepada Hekate, dewi mantra dan pelindung rumah, sementara di Mesir, bawang putih ditemukan di makam Tutankhamun, simbol perlindungan di akhirat.
“Resep tertua yang diketahui didunia adalah rebusan Mesopotamia, berusia sekitar 3.500 tahun dan mengandung dua siung bawang putih,” kata Robin Cherry , penulis buku berjudul “Garlic: An Edible Biography”.
Robin mengutip Papirus Ebers, teks Mesir kuno yang mencantumkan banyak kegunaan obat bawang putih dalam penyakit mulai dari parasit hingga masalah kardiovaskular dan pernapasan.
Tokoh-tokoh terkemuka dari zaman kuno seperti Hipokrates menggunakan bawang putih untuk tujuan terapeutik.
"Penyebutan [bawang putih] tertua juga berusia sekitar 3.500 tahun . Papirus itu disebut Papirus Ebers, dan memuat banyak referensi tentang cara menggunakan bawang putih untuk menyembuhkan segala hal, mulai dari malaise umum hingga parasit dan masalah jantung atau pernapasan,” ujar Cherry lagi.
Meskipun bawang putih kini menjadi simbol kelezatan kuliner, selama berabad-abad ternyata diasosiasikan dengan rakyat jelata, makanan pokok para budak dan pelaut. "Bawang putih sebenarnya adalah makanan untuk orang miskin ," jelas Cherry.
"Bawang putih dianggap memberi kekuatan bagi orang-orang seperti para budak yang membangun piramida di Mesir atau para pelaut Romawi. Harganya murah dan dapat menutupi rasa tidak enak makanan basi. Jadi bawang putih dianggap hanya dimakan oleh orang miskin," jelasnya.
Bawang putih mengalami transformasi citra selama Renaisans, ketika tokoh-tokoh seperti Henry IV dari Prancis mempopulerkannya di kalangan bangsawan.
Kedatangannya di Amerika Serikat pada abad ke-20, melalui para migran Eropa dan Asia, membantu meruntuhkan prasangka dan mengintegrasikannya ke dalam budaya kuliner Amerika, di mana sebelumnya bawang putih didiskriminasi.
Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa, saat ini terdapat sekitar 600 varietas bawang putih di seluruh dunia, meskipun penggunaan obatnya terus dikaji.
Beberapa penelitian telah mendokumentasikan efek antimikroba, antivirus dan antijamur yang ampuh yang dikaitkan dengan senyawa seperti alisin. Studi lain yang dilakukan di Universitas Sydney di Australia mengonfirmasi khasiat antimikroba, antivirus dan antijamur yang kuat dari bawang putih.
"Bawang putih mengandung kadar kalium, fosfor, seng, dan sulfur yang tinggi, serta magnesium, mangan, dan zat besi dalam jumlah sedang. Bawang putih bagaikan sayuran ajaib," ujar Bahee Van de Bor , juru bicara Asosiasi Ahli Diet Inggris dan ahli gizi anak.
Penelitian ilmiah telah menghasilkan beragam hasil terkait potensi manfaat lainnya, seperti menurunkan kolesterol dan tekanan darah. Sebuah studi di Iran melaporkan adanya perbaikan setelah mengonsumsi bawang putih dengan jus lemon, tetapi uji coba di Universitas Stanford yang melibatkan 200 peserta tidak menemukan efek signifikan. Namun, sebuah studi di Australia mengonfirmasi potensi antimikroba bawang putih.
Mengonsumsi satu atau dua siung bawang putih mentah setiap hari dianggap sehat untuk orang dewasa. Namun konsumsi berlebihan dapat menyebabkan ketidaknyamanan gastrointestinal, perut kembung dan perubahan flora usus, terutama jika dikonsumsi saat perut kosong.
Efek samping ini didokumentasikan dalam jurnal klinis American Family Physician yang merekomendasikan penggunaan dalam jumlah sedang dan mempertimbangkan toleransi individu.
Editor: Aspian Nur