Sebuah studi yang diterbitkan di Science Advances awal tahun ini menganalisis catatan infestasi dan kondisi lingkungan di 16 kota selama lebih dari satu dekade.
Hasilnya mengejutkan, aktivitas dan jumlah tikus meningkat secara signifikan di 11 kota.
Cleankill, sebuah perusahaan pengendalian hama menyebut terjadi peningkatan aktivitas terkait tikus sebesar 20 persen selama dua tahun terakhir dibeberapa kota dan lebih dari separuh layanan pengendalian hama menerima banyak panggilan terkait tikus sejak 2019.
Meningkatnya keberadaan tikus menimbulkan resiko kesehatan langsung. Mengutip dari bbc.com Jumat (3/10/2025) hari ini, hewan-hewan itu, bahkan di lingkungan yang bersih, sering kali bergerak melalui selokan dan tempat pembuangan sampah, sehingga mereka dapat menularkan penyakit serius.
Penyakit-penyakit ini termasuk leptospirosis yang ditularkan melalui urine tikus juga penyakit hantavirus yang dapat ditularkan melalui menghirup partikel kotoran kering.
Bobby Corrigan, spesialis dalam studi perilaku tikus di lingkungan perkotaan menjelaskan kalau perluasan spesies ini disebabkan oleh beberapa factor, diantara yang paling signifikan adalah ketersediaan sampah makanan yang konstan yang seringkali berasal dari kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji.
Selain itu pengumpulan sampah kota yang jarang dan pekerjaan konstruksi yang memengaruhi sistem pembuangan limbah menyulitkan pengendaliannya.
Menurut British Pest Control Association (BPCA), Asosiasi Pengendalian Hama Inggris, peningkatan urbanisasi, pembangunan infrastruktur dan perubahan dalam pengelolaan sampah meningkatkan akses tikus terhadap sumber makanan dan tempat berlindung. Selain itu terdapat faktor iklim yang krusial.
Penelitian yang disebutkan diatas yang dilakukan oleh Corrigan dan Universitas Richmond menunjukkan kenaikan suhu berkorelasi dengan peningkatan aktivitas dan populasi tikus yang signifikan.
Kenaikan suhu disebabkan oleh kemampuan tikus untuk tetap aktif selama musim dingin yang lebih ringan. Urbanisasi memperburuk fenomena ini melalui efek pulau panas dimana aspal dan bangunan mempertahankan suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah pedesaan.
Menurut Climate Action Tracker , proyeksi menunjukkan pemanasan global dapat meningkatkan suhu sebesar 1,9℃ hingga 2,7℃ di atas tingkat pra-industri pada tahun 2100.
Reproduksi tikus yang semakin cepat memperburuk masalah ini. Sepasang tikus dapat menghasilkan lebih dari 1.000 keturunan dalam setahun, menurut para peneliti. Hal ini diperparah di lingkungan perkotaan yang padat dan panas, dimana tempat persembunyian dan sampah berlimpah.
Steven Belmain , profesor ekologi di Universitas Greenwich, memperingatkan kalau tikus menunjukkan perilaku neophobia, yang membuat racun umum sulit efektif karena mereka jarang mencoba makanan baru dan cenderung menghindari resiko.
Dr Alan Buckle dari Universitas Reading mengungkapkan metode tradisional untuk membasmi tikus seperti obat pengencer darah telah menjadi kurang efektif.
Tikus-tikus tersebut telah mengembangkan mutasi genetik yang membuat mereka kebal dan metode-metode ini menyebabkan penderitaan yang berkepanjangan dan menimbulkan dilema etika.
Para ahli dan pengendali hama menekankan kesulitan mengendalikan investasi besar hanya dengan racun. Melimpahnya sisa makanan dan sampah yang tidak dikelola dengan baik memicu pertumbuhan populasi perkotaan yang konstan. Menurut para ahli, kepadatan penduduk di perkotaan akan terus meningkat.
Kantor Statistik Nasional Inggris memproyeksikan jumlah penduduk akan meningkat dari 67,6 juta pada tahun 2022 menjadi 72,5 juta pada tahun 2032 , yang dapat berkontribusi pada perluasan masalah ini.
Editor: Aspian Nur