Logika algoritmik menentukan konten mana yang ditampilkan berulang kali membentuk kebiasaan dan minat serta memengaruhi proses perkembangan psikologis yang mendalam sejak usia dini.
Andrés Luccisano, psikiater anak dan remaja serta wakil kepala Layanan Kesehatan Mental Pediatrik di Rumah Sakit Italia Buenos Aires, Argentina menyebut algoritma adalah serangkaian operasi terurut yang selalu berupaya memperoleh suatu hasil.
Di dunia digital, algoritma jejaring sosial menentukan konten apa yang muncul di linimasa setiap pengguna, memprioritaskan topik yang paling diminati setiap orang.
Luccisano menjelaskan kepada Infobae Senin (29/9/2025) hari ini, proses ini tidak membedakan antara topik positif atau negative.
"Algoritma tidak menganalisis konten secara mendalam, melainkan minat yang ditunjukkan dari waktu ke waktu dan melalui interaksi yang berulang," jelas Luccisano.
Sang spesialis menekankan mekanisme ini dapat memperkuat paparan terhadap gambaran tubuh dan kehidupan ideal, pencapaian spektakuler atau gaya hidup yang tidak mungkin tercapai sehingga menimbulkan dampak pada perkembangan emosional remaja.
Fabián Triskier, seorang psikiater dari Departemen Anak dan Remaja di Ineco menambahkan, terdapat konsensus dalam literatur mengenai dampak negatif media sosial, terutama di kalangan remaja perempuan. Meskipun masalah ini juga memengaruhi anak laki-laki, studi menunjukkan anak perempuan lebih rentan.
Media sosial menurut Triskier berkontribusi pada idealisasi model estetika dan tubuh, sehingga menciptakan ekspektasi yang sulit dicapai. Ditambah lagi dengan efek fear of missing out alias FOMO.
Baik Luccisano maupun Triskier sepakat satu diantara daya Tarik terkuat yang diciptakan oleh algoritma ini adalah kepuasan instan.
Luccisano menjelaskan bagaimana kesenangan yang mudah diakses, langsung dan intens merupakan daya tarik utama yang menopang konsumsi media sosial secara konstan.
Setiap interaksi, tayangan atau suka bertindak sebagai hadiah , membangun sirkuit kesenangan yang merangsang kebutuhan untuk terhubung kembali.
Para ahli merekomendasikan pedoman bagi keluarga dan pendidik.
“Langkah utama adalah menyadari risiko penggunaan dan penyalahgunaan media sosial , terutama bahaya paparan layar pada anak-anak sejak dini,” tutup Luccisano.
Editor: Aspian Nur