Seiring berjalannya waktu, ajaran ini menyebar ke agama Buddha, Hindu dan Tao dan akhirnya mencapai Eropa, tempat ajaran ini pertama kali dipandang dengan skeptis dan kemudian dengan minat akademis yang berkembang.
Saat ini, ada begitu banyak penelitian yang dapat mengonfirmasi sesuatu yang tidak terpikirkan beberapa dekade lalu, meditasi mengubah struktur otak dan meningkatkan fungsi kognitif dengan cara yang sebanding dengan latihan fisik.
"Satu diantara ciri manusia adalah memiliki pikiran yang bisa mengembara dan memikirkan berbagai hal aneh," kata Laurie Santos, profesor psikologi di Universitas Yale melansir dari laman infobae.com Minggu (14/9/2025) hari ini. "Penelitian menunjukkan kalau meditasi sederhana, bahkan hanya 10 menit sehari untuk seorang pemula dapat secara signifikan mengurangi aktivasi otak di area otak yang cenderung membuat pikiran Anda mengembara," papar Laurie.
Pengamatan ini menekankan apa yang terjadi ketika perhatian terpecah yaitu kesejahteraan umum menurun dan kemampuan untuk menikmati hal-hal yang terjadi saat ini pun hilang. Meditasi, di sisi lain, melatih pikiran untuk tetap berada di masa kini.
Fakultas Kedokteran Harvard menegaskan mindfulness membantu mengatasi stres sehari-hari. Asosiasi Jantung Amerika menambahkan, terdapat bukti kuat mengenai pengaruh praktek ini terhadap kesehatan otak dan fisik.
Diantara manfaat yang diamati adalah perlambatan penurunan kognitif terkait usia, pengurangan peradangan, penguatan sistem kekebalan tubuh, pengendalian respons nyeri dan peningkatan kualitas tidur. Ini bukan sekadar sumber daya psikologis, tetapi alat komprehensif yang memengaruhi berbagai area tubuh.
Studi neuroimaging menunjukkan orang yang sering bermeditasi menunjukkan perubahan anatomi dan fungsional di area-area otak utama. Peningkatan ketebalan korteks diamati di korteks prefrontal dan insula, area yang berkaitan dengan perhatian, regulasi emosi, dan introspeksi.
Penurunan aktivitas di amigdala, area yang memproses rasa takut dan stress juga ditemukan. Bukti ini membantu menjelaskan mengapa mereka yang bermeditasi melaporkan lebih sedikit kecemasan dan mampu mengatasi situasi buruk dengan lebih baik.
Psikolog klinis Sabina Acarraz menjelaskan, meditasi meningkatkan fungsi eksekutif yang lebih tinggi seperti perhatian dan konsentrasi karena dalam arti tertentu, meditasi memaksa seseorang untuk bekerja pada area tertentu dan memperkuatnya. Dengan kata lain, otak bekerja seperti otot yang dilatih semakin sering ia berlatih mempertahankan perhatian, semakin kuat jaringan kontrol kognitifnya.
Manfaat psikologisnya sangat banyak. Menurut Acarraz, meditasi mengurangi impulsivitas, mendorong refleksi, mengatur tingkat kecemasan, kesedihan dan kesepian, mengurangi pikiran negative dan merangsang empati. Meditasi juga meningkatkan suasana hati dan membantu menyeimbangkan energi fisik dan mental.
Itulah sebabnya banyak profesional kesehatan mental kini merekomendasikan praktik ini sebagai bagian dari terapi mereka.
Aspek relevan lainnya adalah pernapasan. Ketika pernapasan menjadi sadar dan dalam, sistem parasimpatis akan aktif, yang mengurangi detak jantung dan tekanan darah. Tubuh menafsirkan sinyal ini sebagai ketenangan, dan hasilnya adalah kondisi fisiologis yang berlawanan dengan stres .
Itulah sebabnya banyak program berbasis kesadaran telah mencapai hasil klinis yang sebanding dengan obat-obatan farmasi untuk depresi, insomnia, atau nyeri kronis.
Editor: Aspian Nur