Namun, bagi mereka yang memiliki infeksi atau sistem kekebalan tubuh yang lemah, handuk harus dicuci setelah setiap kali pemakaian.
“Handuk bersih tidak lagi bersih setelah digunakan untuk mengeringkan kulit," kata Freestone melansir dari laman dailymail.co.uk Rabu (23/7/2025) hari ini.
"Handuk yang kotor akan membuat kulit kembali kotor sehingga menghilangkan tujuan kita untuk mandi yaitu membersihkan diri," ungkapnya.
Sebelum tubuh dikeringkan, sejatinya handuk menyimpan ribuan sel kulit dan jutaan mikroba seperti bakteri dan jamur diatasnya. Dan kemudian ketika menggunakan kembali handuk tersebut, lapisan sel dan organisme tak terlihat ini akan lepas yang pada akhirnya menciptakan komunitas yang berkembang pesat ditubuh terutama bagian atas kulit.
Sebuah studi yang menganalisis penggunaan handuk mandi berulang kali oleh seorang pengguna disebuah penginapan mengungkapkan tingginya tingkat beberapa spesies bakteri yang dapat menyebabkan infeksi berbahaya pada manusia, diantaranya Escherichia coli atau E coli (bakteri yang secara normal hidup di usus), Staphylococcus aureus (penyakit kulit ringan) dan Klebsiella (bakteri yang ada pada luka).
Paparan mikroba ini pada handuk dapat menyebabkan demam, asma, iritasi kulit alergi, infeksi kulit dan banyak gejala lainnya.
Handuk juga sering lembap, bukan hanya karena kita menggunakannya setiap hari setelah mandi, tetapi juga karena kain handuk jauh lebih tebal daripada kain sprei.
Bakteri dan jamur berkembang biak di lingkungan lembap, yang pada gilirannya membuat handuk lebih sulit kering – yang selanjutnya mendorong pertumbuhannya. "Handuk mandi sangat baik dalam mengumpulkan mikroorganisme karena bersentuhan dengan semua area tubuh," papar Freestone.
“Jika handuk digunakan berulang kali tanpa dicuci, keringat, sel kulit dan cairan tubuh akan menumpuk dan menyediakan lingkungan yang bergizi, lembap dan hangat bagi bakteri dan jamur untuk berkembang biak,” ungkapnya.
Handuk cepat menyerap bau apek atau asam yang tidak sedap, mirip dengan bulu anjing basah dan penyebabnya cukup sulit diterima.
"Bau apek dari handuk yang terlalu sering digunakan dan kurang dicuci diduga berasal dari sisa deterjen atau pelembut pakaian yang memerangkap keringat atau cairan tubuh yang kemudian dimakan oleh bakteri dan jamur yang menghasilkan senyawa organik yang mudah menguap," jelas Freestone. "Dengan kata lain, bau tersebut berasal dari bakteri dan produk limbah jamur," tegasnya.
Menurut Freestone, sebaiknya seseorang jangan pernah berbagi handuk mandi untuk meminimalkan resiko penyebaran infeksi. Infeksi virus seperti cacar monyet, yang menyebabkan demam, sakit kepala dan lepuh dapat menyebar melalui kebiasaan tersebut.
Dan bukan hanya handuk mandi yang harus dicuci secara teratur; handuk tangan mungkin tidak digunakan di seluruh tubuh seperti handuk mandi, tetapi kontak dengan kulit tetap memindahkan mikroba dan sel-sel kulit dari tangan.
"Handuk mandi perlu dicuci lebih sering daripada handuk tangan karena kandungan mikrobanya lebih tinggi. Tetapi handuk tangan tetap akan menumpuk bakteri dan jamur karena penggunaan berulang – jadi cucilah dengan deterjen panas setiap tiga hingga lima hari,” jelasnya.
Handuk tangan dan handuk mandi harus dicuci dengan deterjen pada suhu 60 derajat celcius dan dibiarkan kering sepenuhnya sebelum digunakan.
"Pencucian air panas ini membunuh sebagian besar bakteri dan jamur, menonaktifkan virus dan mencegah handuk berbau tidak sedap. Hal itu juga memastikan handuk tidak menimbulkan risiko infeksi. Untuk menyimpan handuk, pastikan handuk benar-benar kering sebelum ditumpuk di tempat yang sejuk dan kering," sebut Freestone.
Menurut Rietie Venter, profesor madya kesehatan klinis di University of South Australia, handuk perlu dicuci lebih sering daripada seprai.
Handuk sebaiknya dicuci setiap beberapa hari, katanya dalam sebuah artikel di The Conversation tahun lalu, sementara waslap atau handuk tangan harus dibersihkan setelah setiap penggunaan. Jika handuk masih berbau setelah dicuci, handuk tersebut mungkin terlalu lama dibiarkan di mesin cuci setelah siklus selesai.
"Jika memungkinkan, jemur handuk dan seprai dibawah sinar matahari, Itu akan mengeringkannya dengan cepat dan menyeluruh, serta akan menghasilkan aroma katun yang segar dan bersih. Menggunakan pengering adalah alternatif yang baik jika cuaca buruk, tetapi berjemur di luar ruangan di bawah sinar matahari selalu lebih baik jika memungkinkan," kata Venter.
Mengapa Handuk Cepat Berbau?;
- Handuk adalah rumah yang sempurna bagi komunitas bakteri dan jamur yang berlimpah.
- Handuk mengandung banyak bahan penting untuk mendukung kehidupan mikroba mulai dari air, suhu hangat, oksigen, pH netral dan bahkan sisa makanan di sel kulit mati yang ditinggalkan manusia setelah kering sempurna.
- Tubuh manusia juga memiliki kondisi kehidupan yang ideal ini, sehingga tubuh menjadi tuan rumah bagi triliunan bakteri sepanjang hidup kita.
- Saat handuk digunakan untuk mengeringkan tubuh, mikroba yang berada di permukaan kulit akan menempel pada permukaannya yang lembap dan hangat.
- Saat mencium aroma handuk sering pula tercium bau apek atau asam, yang berasal dari produk limbah yang dihasilkan oleh komunitas jamur dan bakteri yang terus berkembang.
- Jangan buang handuk basah ke dalam keranjang cucian, karena kelembapan dan kotorannya akan tetap menjadi tempat yang ideal bagi mikroba untuk berkembang biak.
- Saat mulai mencuci, handuk dan cucian lain di sekitarnya mungkin sudah berbau tidak sedap. Dan mungkin sulit untuk membuat handuk kembali harum dan segar.
- Sebaiknya, langsung masukkan handuk basah ke dalam mesin cuci atau jika masih lama sebelum dicuci, gantung hingga kering terlebih dahulu.
Editor: Aspian Nur