“Saya agak terkejut dengan rutinitas mandi sekarang ini kalau melihat banyaknya masukan dari orang dimedia sosial tentang bagamana mandi yang baik dan sehat,” kata Dr Olga Bunimovich, pengajar dermatologi di Universitas Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat, melansir dari laman apnews.com Kamis (10/7/2025) hari ini.
Proses bertahap itu yang membuat orang menghabiskan waktu berjam-jam untuk mandi dan sejatinya dapat merusak kulit bahkan lingkungan padahal para dermatology, cabang ilmu kedokteran yang berfokus pada kesehatan kulit, menegaskan kalau sebagian besar hal itu tidak perlu.
“Kulit anda adalah penghalang,” kata Dr Nicole Negbenebor, seorang ahli bedah dermatologi di University of Iowa Health Care. “Itu (kulit) adalah satu dari penghalang terbesar yang dimiliki. Kalau ingin merawatnya dengan baik jangan lakukan terlalu banyak hal karena yang baik bisa menjadi buruk,” tegas Nicole.
Mandi adalah rutinitas yang relatif sederhana yang biasanya tidak memerlukan 10 langkah atau banyak produk. Mandi harian dengan air hangat dan pembersih hypoallergenic tanpa pewangi diikuti dengan losion atau minyak pelembap setelahnya sebenarnya sudah cukup.
Jangan berencana untuk mandi terlalu lama atau mengatur suhu air terlalu tinggi karena hal itu dapat menghilangkan minyak alami kulit yang dibutuhkan untuk menjaga lapisan pelindungnya, membuatnya rentan terhadap kekeringan dan iritasi.
Saat memilih sabun, gunakan yang dirancang untuk kulit sensitif. Sabun antibakteri populer, tetapi ahli mengatakan sabun tersebut terlalu mengeringkan kulit untuk penggunaan sehari-hari.
Minyak dapat bermanfaat untuk kulit setelah mandi dan keluar dari shower. Namun penting untuk diingat minyak bukanlah pelembap, melainkan pelapis. Air melembapkan kulit tetapi minyak akan mengunci kelembapan tersebut.
“Senang mendengar tentang rutinitas perawatan kulit yang melibatkan pembersihan dan juga pelembapan,” kata Dr Lisa Akintilo, seorang dermatolog di NYU Langone Health, “Karena hal itu sering kali hilang dalam rutinitas perawatan kulit banyak orang,” jelasnya.
Beberapa influencer menyarankan rutinitas perawatan kulit tidak lengkap tanpa eksfoliasi dan yang disebut double cleansing yang biasanya digunakan dalam rutinitas perawatan kulit wajah, terutama saat menggunakan makeup dan melibatkan penggunaan pembersih berbasis minyak untuk melarutkan makeup dan minyak berlebih, diikuti dengan pembersih berbasis air untuk menghilangkan sisa-sisa yang tersisa.
Para ahli mengatakan tidak perlu menerapkan praktik tersebut ke seluruh tubuh. “Bukan hanya tidak perlu membersihkan wajah dua kali, tapi orang-orang juga sering menggunakan sabun berlebihan,” kata Bunimovich.
“Sebaiknya jangan menggosok seluruh kulit dengan sabun,” paparnya dan menyarankan untuk mencuci area pribadi dan lipatan kulit.
Eksfoliasi juga penting dilakukan tapi jangan berlebihan. Eksfoliasi bertujuan untuk mengangkat sel kulit mati dari tubuh dan baik untuk kulit tapi melakukannya setiap hari dapat menyebabkan berbagai masalah, terutama jika memiliki kulit kering atau kondisi kulit seperti eksim atau jerawat.
Eksfoliasi manual, yaitu saat menggunakan scrub tubuh atau loofah yang kasar, sebaiknya dilakukan secara terbatas untuk menghindari iritasi.
Jika terlihat ruam di kulit setelah eksfoliasi, itu bisa jadi tanda anda melakukannya terlalu berlebihan. Cara yang lebih lembut untuk eksfoliasi adalah menggunakan produk yang mengandung asam laktat atau asam glikolat, kata dermatolog, tetapi tidak setiap saat.
Mandi menyumbang hampir 17 persen dari penggunaan air dalam ruangan, menurut Badan Perlindungan Lingkungan. Banyak negara bagian yang mengalami kekeringan sedang hingga parah telah mengimbau upaya penghematan air tahun ini, termasuk mandi lebih singkat.
Jika ingin bersih dan mempertahankan minyak alami kulit, mandi dengan air hangat yang memberi cukup waktu untuk membersihkan tubuh seharusnya cukup efektif.
Editor: Aspian Nur