Meskipun Indonesia telah berhasil menghilangkan kasus polio sejak tahun 1997, namun beberapa kali terjadi kejadian luar biasa (KLB) polio yang disebabkan oleh virus polio yang bermutasi.
Hal ini dijelaskan oleh Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR sekaligus Konsultan Infeksi Tropik Anak dari IDAI, Prof. Dr. dr. Ismoedijanto, DTM&H, Sp.A(K), dalam temu media virtual, Jakarta, Senin (8/1/2024).
Ismoedijanto mengatakan bahwa polio dapat dideteksi melalui gejala anak lumpuh layu akut (AFP), yaitu kondisi anak mengalami kelumpuhan pada salah satu atau lebih anggota tubuhnya tanpa disebabkan oleh trauma, kecelakaan, atau penyakit lain.
“AFP itu syaratnya lumpuh layu, tidak oleh karena trauma, kecelakaan, lalulintas, dan sebagainya, kemudian usianya di bawah 15 tahun, that’s enough. Itu harus dilaporkan. Jadi anak yang di bawah 15 tahun lumpuh layu akut di dalam waktu 2 minggu, dan kemudian tanpa roda vaksin. Jadi, kejadian AFP ini kalau disertai dengan bahwa ditinjaunya itu positif, itu kita mengatakan ada polio,” ujarnya dilansir dari inilah.com pada Selasa (9/1/2024).
Masih menurutnya, virus polio yang menyebabkan polio ada tiga serotype, yaitu polio 1, polio 2, dan polio 3. Vaksin polio yang digunakan dalam program imunisasi nasional adalah vaksin tri ovalen, yang mengandung virus polio yang dilemahkan untuk ketiga serotype tersebut.
Namun, virus vaksin ini dapat bermutasi dan beradaptasi dengan lingkungan, sehingga menjadi circulating vaccine derived polio virus (CVDPV), yaitu virus yang dapat menular dan menyebabkan polio pada orang yang tidak terimunisasi atau memiliki imunitas rendah.
“Yang muncul ini (polio) virusnya yang sudah berubah. Jadi kita mempunyai strategi eradikasi polio global. Kita maunya itu seperti campak, tidak ada lagi polio di dunia. Caranya adalah melakukan imunisasi rutin, melakukan imunisasi tambahan, kemudian surveillance, surveillance itu mencari. Kita secara aktif mencari, bukan mencari anak yang polio, tapi kita mencari anak yang lumpuh,” paparnya.
Prof. Ismoedijanto mengatakan bahwa KLB polio di Indonesia terjadi beberapa kali sejak tahun 2005. KLB polio pertama kali terjadi pada tahun 2005, yang disebabkan oleh virus polio liar yang dibawa oleh Jemaat Sanggi dari Sudan dan Yaman. Virus ini menyebar ke 40 kabupaten dari 10 provinsi, dan menyebabkan 305 kasus polio.
Pada saat yang sama, Indonesia juga mengalami KLB polio yang disebabkan oleh CVDPV, yang merupakan kasus pertama di dunia. “Kali ini yang datang adalah lewat Jemaat Sanggi dari Sudan, dari Yemen. Kemudian dia masuk ke Banten. Di sana rupanya surveillance-nya tidak bagus. Dia baru dapat atau baru diketahui setelah dia sampai di Cianjur. Di mana surveillance-nya jauh lebih bagus. Ini menular ke 40 kabupaten dari 10 provinsi. Jadi sangat cepat sekali,” jelasnya.
Editor: Maruly Z