Dicontohkannya, pada orang-orang dengan status metabolisme sangat tinggi yang terkena penyakit bisa terjadi penurunan 5-10 persen dari berat badan awal.
Misalnya seseorang dengan berat badan awal 80 kilogram dan dalam tiga bulan terakhir atau tiba-tiba turun delapan kilogram itu perlu diwaspadai apakah terdapat penyakit penyerta. "Misalnya ada infeksi, kanker atau penyakit autoimun. Ini bisa saja jadi penurunan berat badan drastis yang tidak direncanakan," jelas Wina lagi.
Hal yang sama juga berlaku pada orang-orang yang mengalami pertambahan berat badan secara drastis tanpa direncanakan, antara lain akibat dari gaya hidup.
Gaya hidup yang dimaksud adalah jarang berolahraga, menjalani posisi-posisi statis seperti duduk di depan komputer atau menonton televisi sembari mengkonsumsi camilan, makanan tinggi kalori, tinggi gula, dan terjadi peningkatan berat badan secara drastis dapat menimbulkan risiko jangka panjang. "Bisa menimbulkan obesitas, kemudian bisa menimbulkan penyakit diabetes, dan juga hipertensi," ujarnya.
Peningkatan secara drastis harus diwaspadai meskipun belum ada keluhan, belum ada gejala. Untuk itu masyarakat disarankan selalu menimbang berat badan dan cek gizi untuk menghindari risiko-risiko tersebut minimal satu bulan sekali.
Khusus untuk orang-orang yang dalam pengobatan tertentu dapat dipantau bahkan seminggu sekali atau dua minggu sekali. "Karena perubahan berat badan tersebut akan berperan cukup besar terhadap keadaan penyakit dalam terapi ataupun dalam pemantauan perkembangan," jelas Wina.
Untuk menjaga perubahan berat badan dengan sehat masyarakat dapat rutin melakukan olahraga fisik, seperti latihan kekuatan otot seperti push up, angkat beban, dan pull up, tidak melewatkan sarapan pagi, mengonsumsi makanan yang tinggi kalori, serat, dan protein hingga memperbanyak minum air putih dan menghindari tekanan stres.
Editor: Aspian Nur