MOH paling banyak terjadi pada penderita migrain dan wanita muda di usia produktif yang banyak menghabiskan waktu di depan layar gawai seperti ponsel atau komputer.
"Karena migrainnya mengganggu dan dia tidak menemukan cara yang tepat (untuk menghilangnya). Padahal bisa saja migrainnya dipicu hal-hal tertentu, jadi bukan menghindari penyebabnya malah dia menghilangkan (migrain) dengan jalan pintas berupa minum obat," katanya.
"Kemudian yang sering melihat layar itu kan rasanya enggak nyaman di kepalanya, padahal ada cara lain tapi ditanganinya malah minum obat terus-menerus," papar Tiara lagi.
Seseorang dapat dikatakan berlebihan jika mengonsumsi obat sakit kepala jika melakukannya selama lebih dari 10-12 hari tiap bulan dalam tiga bulan terakhir untuk satu jenis obat.
"Misalnya paling sering minum parasetamol yang merek bebasnya ada macam-macam, coba saja hitung kira-kira seminggu minimal tiga kali minum, Senin sudah, Selasa sudah, lalu beberapa hari kemudian juga, nanti minggu depan begitu lagi. Kalau itu terjadi setidaknya tiga bulan, berarti itu sudah dalam taraf minum obat terlalu banyak," ucapnya.
"Begitu mau stop atau enggak minum (obat) di minggu-minggu berikutnya, kepalanya malah sakit. Jadi ketahuannya adalah kita jadi kebiasaan dan susah menghentikan minum obat tersebut," sebut Tiara lagi.
Karena itu Tiara menyarankan agar tidak menjadikan obat sebagai jalan pintas saat mengalami sakit kepala dan mencoba untuk melakukan upaya lain seperti beristirahat yang cukup. Selain itu, penting juga untuk mengelola stres dengan baik karena stres juga bisa menjadi salah satu penyebab sakit kepala.
"Kalau migrain memang disarankan minum obat segera saat gejala sakit kepalanya muncul. Tapi jika tidak membaik, kuncinya bukan berarti harus minum terus menerus. Sebaiknya pergi ke dokter supaya tidak masuk ke MOH," pungkasnya.
Editor: Aspian Nur