Terkait itu, seorang terapis Eropa mengungkapkan ada tiga hal yang tidak boleh dikatakan orangtua kepada anak-anak mereka.
"Saya tidak dapat memberi tahu berapa banyak klien saya yang mengingat kata-kata yang pernah didengarnya saat masih kecil,” ujar Shannon Moroney, seorang terapis khusus trauma di Toronto, Kanada, dilansir dari laman Thesun.co.uk Kamis (28/7/2022) hari ini.
“Ada kata-kata yang didengar klien saya saat sudah dewasa padahal didapatkannya saat masih anak-anak dan kata-kata itu dianggap merendahkan dan meremehkannya,” ungkapnya.
Ibu dari gadis kembar berusia 10 tahun dan penulis buku terlaris ini memperingatkan kata-kata dari orangtua kepada anak-anak yang bisa membentuk siapa dia ketika saat dewasa. "Hal terpenting yang perlu diingat adalah kita tidak selalu tahu bagaimana kata-kata kita akan diterima, terutama oleh seorang anak. Kata-kata meremehkan benar-benar bisa menyakitkan,” ucapnya.
Shannon kemudian menyebut ada tiga hal yang tidak boleh dikatakan kepada anak-anak, yaitu;
1. "Kamu sangat dramatis"
Anak-anak kadang berteriak hanya untuk hal-hal terkecil seperti tidak punya camilan yang mereka inginkan. Dalam kondisi seperti itu, orangtua harus bisa menahan diri untuk tidak menyebut anaknya terlalu dramatis. "Ketika orangtua membatalkan perasaan anaknya, si anak akan belajar untuk tetap diam,” jelasnya.
Tidak diragukan kalua reaksi anak-anak bisa dramatis dan sebagai orangtua mungkin mencoba mengajari mereka cara mengendalikan emosi. "Apa yang sebaiknya dilakukan orangtua adalah memberi tahu anak-anak kalau perasaan mereka baik-baik saja,” ucap Shannon.
Orangtua disarankan memberikan ucapan yang lebih baik kepada anaknya. “Ucapkan saja kalimat seperti ‘aku dapat mendengar keinginanmu, bisakah kita membicarakannya?’” jelas Shannon.
2. "Berhenti menangis"
Shannon cenderung mendorong anak-anaknya untuk menangis daripada menyuruh mereka berhenti. Saat anaknya di rumah, dia akan menyuruh anaknya pergi ke kamar dan berteriak sendirian, sebelum mereka siap untuk membicarakan apa yang salah.
Memberi anak kebebasan untuk menangis ini juga membuatnya lebih mungkin terbuka kepada orangtua jika ada sesuatu yang lebih dalam pada akar kesedihan atau kekecewaan mereka.
Shannon mencontohkan seorang yang, ketika menulis namun mematahkan pensilnya si anak mulai terisak-isak. Bisa jadi sebenarnya dia mengalami hari yang sulit di sekolah, mungkin saja anak atau guru lain mengatakan sesuatu yang kejam dan dia sudah muak.
“Mengucapkan kalimat ‘itu hanya pensil, berhenti menangis’ akan membuatnya lebih mungkin untuk menginternalisasi perasaan nyata apa pun yang menjadi akar masalah,” kata Shannon.
3. Jangan nilai bentuk tubuh anak
Shannon memperingatkan orangtua tidak menggambarkan berat badan atau tubuh anak, seperti menyebut mereka gemuk karena dapat memicu mereka tak mau makan saat dewasa. "Mengatakan mereka tentang hal itu berarti memperkuat pola negatif," tegas Shannon.
Dia juga mengatakan kepada orangtua untuk berhenti berkomentar tentang tubuh mereka sendiri seperti “saya harus melakukan diet" atau "saya telah menambah berat badan’. "Yang harus diucapkan orangtua adalah 'saya perlu mengubah siapa saya agar lebih baik’ karena kalimat itulah yang akan didengar seorang anak tentang diri mereka sendiri," tutup Shannon.
Editor: Aspian Nur