Dilansiri dalam laman Halodoc.com Selasa (21/6/2022) hari ini, beberapa hoaks atau mitos dan fakta kesehatan yang perlu diketahui masyarakat ternyata sudah beredar sejak beberapa puluh tahun silam dan hoaks tersebut antara lain;
1. Jangan Menonton Televisi Terlalu Dekat
Banyak orangtua yang mengkhawatirkan anak-anak mereka bila menonton televisi dengan jarak yang terlalu dekat dengan layar. Memang, dahulu televisi memiliki layar cembung dengan tingkat pancaran radiasi yang besar, sehingga tidak aman jika menonton terlalu dekat. Namun, kini televisi sudah dilengkapi dengan “blue cut lens” yang dapat menyaring sinar radiasi berbahaya.
Bukan hanya alasan sinar blue cut yang berbahaya, duduk dekat televisi terlalu lama juga dipercaya dapat membahayakan mata dan memberikan efek sakit kepala. Namun, hal itu tidak berlaku bagi anak-anak. Mereka nyatanya bisa lebih fokus ketika duduk dekat dengan televisi tanpa merasakan lelah pada mata mereka, seperti yang dirasakan orang dewasa.
2. Enggak Apa-Apa, Belum 5 Menit
Hoaks kesehatan yang satu ini sering kali kita dengar ketika makanan tidak sengaja terjatuh ke lantai.
Padahal, kalau kamu tahu, hanya butuh beberapa detik saja agar makanan di lantai terkontaminasi bakteri yang dapat membahayakan tubuh, khususnya sistem pencernaan. Jika kamu mengambil dan memakannya, kamu bisa mengalami masalah pada pencernaan seperti diare.
3. Lagi Sakit, Jangan Makan Es Krim
Mitos satu ini masih dipercaya sampai saat ini. Zaman dulu, orangtua selalu melarang anaknya untuk makan es krim saat sedang demam, karena dipercaya dapat memperparah sakit yang dialami.
Faktanya, hal itu termasuk hoaks kesehatan. Hal yang dapat menjadi penyebab demam adalah infeksi bakteri atau virus, bukan suhu makanan atau minuman yang dikonsumsi.
Es krim justru diperbolehkan untuk dikonsumsi saat sedang demam. Ketika anak demam, napsu makan mereka biasanya akan menurun, sebab mulut terasa pahit dan tubuh terasa lemas. Nah, ibu bisa menyiasati hal itu dengan memberi Si Kecil es krim, karena di dalam es krim terdapat kandungan gula yang bermanfaat untuk memenuhi asupan nutrisi dan cairan guna melawan penyakit.
4. Jangan Minum Alkohol, Nanti Otak Rusak
Alkohol memang tidak baik jika dikonsumsi secara berlebihan, karena dapat merusak neuron pada otak yang menjadi pusat sel saraf dalam sistem saraf manusia. Namun, alkohol tidak membunuh sel otak itu sendiri. Jika dikonsumsi secara wajar dan tidak berlebihan, ada manfaat alkohol bisa kamu peroleh.
5. Harus Banyak Minum Air Putih
Banyak konsumsi air putih memang baik bagi kesehatan, terutama organ ginjal. Namun, jika dikonsumsi terlalu banyak, kamu bisa saja mengidap keracunan air karena natrium dalam darah akan turun secara drastis. Sebaiknya, konsumsi air putih sebanyak 8 gelas (2 – 2,5 liter) setiap hari guna memenuhi kebutuhan tubuh.
6. Gula Merah Lebih Sehat dari Gula Putih
Gula merah tidak lebih alami dari gula putih hanya karena prosesnya lebih memakan sedikit waktu, dan memiliki kandungan 5 persen tetes tebu yang memiliki sejumlah vitamin dan mineral. Bijaklah memilih apa yang kamu butuhkan, perhatikan masalah kesehatan apa yang bisa saja kamu alami jika mengonsumsinya secara berlebihan.
7. Vaksin Covid-19 Mengandung Microchip Magnetis
Salah satu hoaks kesehatan yang sempat ramai dibicarakan pada masa pandemi Covid-19 adalah vaksin Covid-19 mengandung microchip magnetis. Hoaks tersebut muncul lantaran beredar video di media sosial yang menunjukkan bahwa seseorang bisa menempelkan koin di lengan bekas suntikan vaksinasi Covid-19.
Namun, Ketua Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Sri Rezeki Hadinegoro menjelaskan lubang jarum suntik sangat kecil, sehingga tidak ada partikel magnetik yang bisa melewatinya.
Vaksin berisi protein, garam, lipid, pelarut yang ditegaskannya tidak mengandung logam. Jadi berita mengenai vaksin Covid-19 mengandung microchip magnetis adalah hoax.
8. Kalung Antivirus
Demi terhindar dari Covid-19, berbagai produk dan alat kesehatan pun bermunculan yang mengklaim bahwa mereka bisa melindungi tubuh dari berbagai macam virus. Salah satu alat kesehatan yang sempat diminati banyak orang adalah kalung antivirus.
Kalung buatan Jepang tersebut mengklaim bahwa sudah terbukti secara eksperimental bisa memblokir partikel dan bakteri di udara, serta berbagai virus epidemi, sehingga mengurangi risiko terinfeksi atau menginfeksi orang lain. Produk tersebut dikatakan cocok untuk dikenakan pada orang tua, anak-anak, dan orang-orang dengan kekebalan rendah.
Namun, ternyata penggunaan kalung yang bisa mencegah virus tersebut hanyalah hoaks kesehatan. Menurut ahli virus dan imunologi, kalung tersebut tidak akan bisa melindungi tubuh dengan menonaktifkan virus pernapasan.
Banyaknya mitos dan hoaks kesehatan yang masih dipercaya hingga saat ini menuntut setiap orang untuk lebih cerdas dalam menyikapinya.
Editor: Aspian Nur