“Tingkat testosteron yang rendah menyebabkan jumlah sperma yang rendah, yang merupakan penentu utama kesuburan pria,” jelas peneliti utama Joe Whittaker yang juga ahli gizi asal Inggris, dilansir dari laman Thesun.co.uk Minggu (20/3/2022) hari ini.
"Dalam penelitian kami, diet tinggi protein menyebabkan testosteron rendah, jadi sangat mungkin menyebabkan jumlah sperma rendah, yang akan mengurangi kesuburan pria," imbuhnya.
Testosteron rendah juga terkait dengan penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes dan Alzheimer.
Makalah, yang diterbitkan dalam jurnal akademik Nutrition and Health menggambarkan efeknya sebagai keracunan protein, yaitu ketika pemecahan protein menjadi amonia menjadi racun.
Ini menunjukkan tubuh mungkin terlalu sibuk memperbaiki keracunan protein sehingga menekan produksi testosteron.
"Ini akan memakan waktu satu sampai dua minggu untuk melihat tanda-tanda pertama keracunan protein seperti mual, diare dan testosteron rendah (termasuk gejala terkait misalnya gairah seks rendah)," papar Whittaker lagi.
Lalu berapa banyak daging sebaiknya dikonsmsi? Untuk penelitian tersebut, Whittaker dan rekan mengumpulkan hasil dari 27 penelitian yang melibatkan 309 pria.
Ditemukan data diet protein tinggi, yang cenderung rendah karbohidrat sebagai kompromi, secara konsisten mempengaruhi testosteron dan meningkatkan kortisol.
Diet tinggi protein adalah diet di mana 35 persen kalori berasal dari protein, seperti daging, ikan, telur, susu dan kacang-kacangan.
Untuk seorang pria yang makan 2.500 kalori per hari, ini berarti mereka makan sekitar 865 kalori dalam protein, setara dengan tiga butir telur untuk sarapan (240kkal), dada ayam untuk makan siang (212kkal) dan 250g daging cincang saat makan malam (420kkal).
Mr Whittaker menebak sekitar satu persen pria makan protein sebanyak ini.”Kebanyakan pria mencoba untuk menambah otot dan mereka yang mengandalkan banyak protein. Para Bodybuilders dan weightlifters (bahkan para amatir di gym reguler) terkenal rajin diet dan terkadang mencapai 35 persen,” ungkapnya.
“Secara anekdot, saya telah mendengar banyak pria mengeluhkan gejala ringan keracunan protein seperti sakit perut dan diare, ketika mencoba mengecilkan perut. Apa pun di atas 35 persen protein selama lebih dari dua minggu adalah wilayah berbahaya,” paparnya.
Whittaker merekomendasikan untuk tetap berpegang pada batas protein di bawah 30 persen atau 15 hingga 25 persen jika ingin memiliki anak.
“Kurangi alkohol, berhenti merokok, berolahraga secara teratur, turunkan berat badan jika perlu dan makan makanan yang kaya akan makanan utuh, tidak diproses dan bergizi seperti daging, ikan, telur, buah, sayuran, kacang-kacangan dan polong-polongan.. Hindari makanan olahan dan manis,” paparnya.
Makan protein sangat penting dan memiliki sejumlah manfaat, termasuk untuk memperbaiki otot dan membuat merasa kenyang lebih lama.
Itu sebabnya sangat disukai oleh komunitas binaraga, serta mereka yang mencoba menurunkan berat badan. Banyak selebriti seperti Kim Kardashian, LeBron James dan Meagan Fox telah mempromosikan cara ini.
British Nutrition Foundation mengatakan mereka merekomendasikan jumlah protein per hari berdasarkan berapa banyak yang kita butuhkan per kilogram (kg) dari berat badan kita.
“Untuk orang dewasa ini adalah 0,75 gram per kg berat badan. Rekomendasi saat ini adalah 56g/hari untuk pria dan 45g/hari untuk wanita (berdasarkan berat badan 75kg untuk pria dan 60kg untuk wanita).
“Rata-rata di Inggris pria makan sekitar 85 gram dan wanita sekitar 67 gram protein sehari. Jadi, rata-rata kita makan lebih dari kebutuhan. Kemungkinan sebagian besar dari kita mendapatkan cukup protein,” ucap Whittaker lagi
Editor: Aspian Nur