Nyatanya, setelah diteliti lebih mendalam, tidak ada kaitannya antara vaksinasi dengan kematian tersebut setelah disebut-sebut vaksin Pfizer dan Moderna jadi penyebab hilangnya nyawa setelah vaksinasi tersebut.
"Reaksi terhadap kedua vaksin yang disuntikkan umumnya ringan dan mereda setelah satu atau dua hari," jelas penulis studi Dr Tom Shimabukuro dilansir dari laman Thesun.co.uk Rabu (9/3/2022) hari ini.
Para peneliti melihat efek samping dari hampir 300 juta dosis yang sudah disuntikkan. Masyarakat AS melaporkan efek samping menggunakan Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS), yang dijalankan oleh CDC.
Efek samping yang paling umum adalah sakit kepala, kelelahan, demam dan kedinginan, serupa dengan yang dilaporkan di Inggris.
Tetapi mayoritas digolongkan sebagai ringan dan pulih dalam beberapa hari. Hanya saja ada sekitar 22 ribu orang tercatat mengalami gejala serius, yang paling umum adalah sesak napas.
Dari 4.500 kematian yang tercatat dalam enam bulan penelitian tersebut, sekitar 80 persen terjadi pada orang berusia 60 tahun ke atas.
"Langkah cepat di mana vaksin Covid-19 diberikan dalam penggunaan darurat, terutama di kalangan populasi orangtua atau lanjut usia, belum pernah terjadi sebelumnya," kata Dr David Shay dari CDC.
"Karena usia mereka, kelompok ini sudah memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi daripada populasi umum," imbuhnya.
Penelitian lain menemukan fakta kalau vaksinasi Covid-19 dapat mengecilkan otak dan menyebabkan penurunan kognitif atau daya pikir.
Para peneliti dari Universitas Oxford mengamati dua pemindaian otak dari 785 orang berusia antara 51 dan 81 tahun.
Sekitar setengahnya dinyatakan positif Covid lebih dari empat bulan sebelum pemindaian kedua mereka.
Ini kemudian menunjukkan otak mereka menyusut pada tingkat yang lebih cepat dibandingkan dengan mereka yang tidak terpapar virus.
Bahkan orang yang memiliki penyakit ringan atau tanpa gejala mengalami penurunan fungsi kognitif dan cenderung itu terjadi pada orang yang lebih tua.
Tidak jelas mengapa pasien Covid melihat pengurangan ukuran otak yang lebih cepat, tetapi itu bisa terjadi karena terinfeksi Covid dalam waktu yang lama.
Vaksin adalah cara terbaik untuk melewati gelombang Omicron dimana para ahli telah berulang kali mengatakan vaksin bisa memangkas risiko penyakit lebih serius atau rawat inap di rumah sakit.
Siapa pun yang belum divaksin booster harus mendapatkan vaksinasi tersebut sesegera mungkin untuk dilindungi sepenuhnya.
Varian Omicron lebih ringan dari strain sebelumnya tetapi dapat menyebar dengan cepat sehingga kasusnya meroket.
Varian baru apa pun bisa tetap ringan seperti Omicron, tetapi bisa jadi muncul varian yang sedikit lebih parah - itulah mengapa penting untuk tetap waspada.
Risiko dirawat di rumah sakit, meninggal atau menderita penyakit parah sekarang jauh lebih rendah - dengan kebanyakan orang memiliki gejala seperti pilek.
Tanggung jawab sekarang ada pada masyarakat umum untuk hidup dengan Covid, tetapi cobalah untuk tidak menyebarkan virus kepada orang yang lebih rentan terinfeksi.
Editor: Aspian Nur