Para ilmuwan mengklaim “obat cinta” atau obat kuat itu dapat membantu meningkatkan kesehatan otak dan mengurangi kadar protein beracun yang memicu demensia, penyakit menurunnya daya ingat.
Para ahli menganalisis data ada 7,2 juta orang dewasa di Eropa dan menemukan fakta mereka sebagai pengguna reguler memiliki peluang 69 persen lebih rendah untuk didiagnosis menderita Alzheimer selama enam tahun ke depan.
Dilansir dari laman Thesun.co.uk Selasa (7/12/2021) hari ini, paramedis mengatakan temuan yang diterbitkan dalam jurnal Nature Aging dan menunjukkan kalau Viagra yang berbentuk pil biru kecil bisa digunakan untuk mengatasi demensia.
Mereka sekarang merencanakan studi baru untuk menguji manfaat sildenafil, versi generik Viagra, pada pasien awal Alzheimer. Sebuah tim dari Klinik Cleveland melihat apakah salah satu dari 1.600 obat yang disetujui dapat digunakan kembali untuk mengatasi penyebab yang mendasari penyakit tersebut.
“Sildenafil, yang telah terbukti secara signifikan meningkatkan kognisi dan memori dalam model praklinis, disajikan sebagai kandidat obat terbaik,” kata Dr Feixiong Cheng, peneliti utama dari Institut Kedokteran Genomik Klinik Cleveland.
“Sildenafil (nama lain dari Viagra) mungkin memiliki efek neuroprotektif dan mengurangi kadar protein tau beracun,” imbuhnya.
Sekitar 850 ribu orang Inggris saat ini mengidap penyakit pemborosan otak dan angka tersebut diperkirakan akan mencapai satu juta dalam satu dekade. Dua dari tiga kasus demensia disebabkan oleh Alzheimer.
Dr Jack Auty, dosen Ilmu Kedokteran di University of Tasmania, mengatakan kalau itu adalah hal yang menarik.
“Tapi perlu penelitian lebih lanjut. Di bidang penelitian penyakit Alzheimer, kami telah tertarik dengan banyak obat selama bertahun-tahun, namun harapan kami pupus dalam uji klinis karena itu tidak terbukti,” kata Jack.
Dan Dr Catherine Hall, Dosen Senior Psikologi di Universitas Sussex mengatakan sildenafil dapat meningkatkan kekuatan otak dengan meningkatkan aliran darah. "Tampaknya obat itu melakukan sesuatu. Pengobatan sildenafil adalah prospek yang menarik untuk pencegahan Alzheimer, tetapi tidak jelas bagaimana cara terbaik untuk beralih dari penelitian ini,” paparnya.
“Apakah layak untuk mengobati semua orang dengan sildenafil selama bertahun-tahun sebelum mereka cenderung mengembangkan penyakit Alzheimer atau apakah ini akan menyebabkan lebih banyak masalah daripada penyelesaiannya,” jelas Catherine.
Dr Susan Kohlhaas, dari Alzheimer's Research UK mengaku sangat berhati-hati dengan temuan ini.
“Sementara sildenafil paling terkenal sebagai pengobatan untuk disfungsi ereksi, itu juga digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi di paru-paru. Dalam studi ini, para peneliti juga menemukan penggunaannya terkait dengan lebih sedikit kasus penyakit Alzheimer pada orang dewasa Amerika,” sebutnya.
“Para peneliti melakukan eksperimen berbasis laboratorium untuk memberikan indikasi mengapa obat tersebut dapat berdampak pada penyakit seperti Alzheimer, tetapi eksperimen tahap awal ini memerlukan tindak lanjut dalam tes yang lebih menyeluruh,” sebutnya.
Peneliti Inggris optimis Alzheimer bisa dibalikkan satu hari setelah menemukan vaksin yang bisa digunakan untuk memulihkan ingatan.
Editor: Aspian Nur