Pemakain vape bisa mengalamai stroke pertama pada usia 48 tahun, satu dekade lebih awal dari perokok tradisional kendati sebenarnya vaping secara umum dianggap lebih sehat daripada rokok.
Para peneliti memperingatkan paparan perangkat yang digunakan pada usia muda yang dapat menyebabkan kerusakan pada tubuh namun tidak dapat diperbaiki.
Merokok sigaret meningkatkan resiko menderita stroke serta kondisi lain termasuk kanker dan penyakit jantung. Itu terjadi ketika Inggris siap menjadi negara pertama di dunia yang meresepkan rokok elektrik untuk membantu perokok berhenti.
Dalam studi yang dilakukan, peneliti di Rumah Sakit Mount Sinai menganalisis survei nasional terhadap 79.825 orang dewasa yang telah menderita stroke. Mereka memeriksa catatan pasien antara 2015 hingga 2018 untuk menentukan mana yang perokok, vapers atau menggunakan keduanya.
Hasil penelitian menunjukkan perokok paling mungkin menderita stroke (6,75 persen), mereka yang menggunakan vape dan merokok (3,72 persen) dan mereka yang hanya menghisap vaping (1,09 persen).
Tetapi resikonya terbalik untuk orang dewasa di usia yang lebih muda, yang tidak didefinisikan oleh para akademisi tersebut. Para peneliti mengatakan vaping dapat memicu stroke karena asapnya mungkin mengandung bahan kimia berbahaya, bisa merusak pembuluh darah dan menyebabkan aterosklerosis, ketika penyumbatan menumpuk di arteri.
Hal ini dapat mengurangi aliran darah ke otak, yang menyebabkan stroke. Rokok normal juga meningkatkan resiko seseorang menderita stroke karena memicu aterosklerosis dan juga dapat meningkatkan tekanan darah dan menurunkan kadar oksigen dalam darah.
Para ilmuwan yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut menunjukkan penelitian tersebut tidak menghitung apakah orang yang melakukan vape sebelumnya telah menjadi perokok sebelumnya.
Beberapa ilmuwan mengatakan rokok elektrik lebih baik untuk manusia daripada merokok karena uapnya tidak mengandung zat berbahaya yang sama seperti asap rokok.
Sekitar 3 juta warga Inggris menggunakan vape saat ini, lebih dari tiga kali lipat hampir satu dekade lalu. Sebagai perbandingan, saat ini ada 7 juta perokok di Inggris, turun lebih dari setengahnya dibandingkan satu dekade lalu.
Dr Urvish Patel, seorang peneliti di Icahn School of Medicine yang terlibat dalam penelitian ini, memperingatkan rokok elektrik dapat memiliki risiko kesehatan yang tersembunyi.
“Masyarakat perlu tahu keamanan rokok elektrik belum terbukti aman. Vape tidak boleh dianggap sebagai alternatif untuk merokok tradisional terutama diantara orang-orang dengan faktor resiko yang ada seperti riwayat serangan jantung, tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi,” kata Patel.
Tidak ada kelompok plasebo dalam penelitian ini, yang berarti para ilmuwan tidak dapat menentukan apakah vapers lebih atau kurang mungkin menderita stroke daripada populasi umum.
Juga tidak ada data tentang jenis dan tingkat keparahan stroke yang diderita, dan apakah partisipan memiliki kondisi lain seperti tekanan darah tinggi yang membuat kondisi tersebut lebih mungkin terjadi.
Dr Leonie Brose, seorang ahli rokok di King's College London yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan penelitian tersebut tidak memeriksa apakah pengguna vape sebelumnya pernah merokok.
“Survei yang mereka gunakan adalah survei cross-sectional. Ini berarti responden mengalami stroke di masa lalu (mungkin bertahun-tahun sebelum mereka menyelesaikan survei) dan menggunakan rokok elektrik atau merokok pada saat survei,” sebut Brose.
“Setidaknya stroke akan terjadi sebelum penggunaan e-rokok. Stroke kemudian tidak mungkin disebabkan atau dibuat lebih mungkin oleh rokok elektrik,” sanggahnya.
Profesor Emeritus John Britton, ahli epidemiologi di Universitas Nottingham menunjukkan perokok secara keseluruhan jauh lebih mungkin menderita stroke daripada vapers. AS memiliki peraturan yang lebih longgar tentang vape dan faktanya ada hampir dua ribu orang dirawat di rumah sakit pada tahun 2019 setelah membeli produk vaping yang tidak diatur.
Sebagai perbandingan, Inggris memiliki peraturan yang ketat. Seperti AS, saat ini tidak mengizinkan mereka untuk dijual sebagai produk medis. Tetapi Inggris mungkin akan segera menjadi negara pertama di dunia yang meresepkan rokok elektrik untuk membantu perokok berhenti.
Ada lebih dari 100 ribu orang mengalami stroke di Inggris setiap tahun yang memicu lebih dari 38 ribu kematian, sementara di Amerika Serikat ada 795 orang diserang penyakit tersebut per tahun.
Editor: Aspian Nur