Saiqa Parveen harus menjalani perawatan intensif setelah jatuh sakit pertengahan September 2021 saat hamil delapan bulan. Operasi caesar darurat dilakukan untuknya tanggal 26 September dengan Saiqa masih menggunakan ventilator, alat bantu pernapasan, saat anak kelimanya lahir.
Tanggal 1 November, Saiqa dinyatakan meninggal dunia tanpa sempat melihat sang buah hati. Diketahui, di Inggris vaksinasi Covid-19 berhasil menyelamatkan 100 ribu nyawa dari kematian, juga membantu mencegah siapa saja yang terpapar untuk sakit parah akibat virus tersebut.
"Saya meminta semua orang untuk mendapatkan vaksinasi, jika tidak Anda akan menghadapi situasi seperti yang kami hadapi,” ujar kakak Saiqa, Qayoum Mughal, dilansir dari laman Thesunc.co.uk Minggu (7/11/2021) hari ini.
"Dapatkan vaksin dan hindari tragedi semacam ini. Keluarga kami benar-benar hancur," katanya dengan nada sedih.
Saiqa yang tidak memiliki riwayat penyakit sebenarnya sempat ditawari suntikan Covid tetapi memutuskan ingin menunggu sampai bayinya lahir.
Pada 14 September Saiqa sakit dan dites ternyata positif terkena virus dan dua hari kemudian mengalami masalah pernapasan. Saiqa dibawa ke rumah sakit dengan ambulans dan dipulangkan enam hari kemudian namun dirawat lagi di rumah sakit lain setelah itu.
Menurut Maghul, tanggal 25 September dirinya menandatangani dokumen yang memberitahu petugas medis untuk melakukan operasi untuk mengeluarkan bayinya jika kondisinya memburuk. "Keesokan paginya suaminya (Majid Ghafur) menelepon kami dan memberi tahu kami bahwa Saiqa menggunakan ventilator dan mereka bersiap untuk operasi," kata Maghul.
"Jam dua siang, dokter menelepon suaminya dan mengatakan Saiqamelahirkan seorang bayi perempuan. Tapi kakak saya tidak pernah melihat putrinya," ujar Maghul dengan linangan air mata.
Saiqa sudah memiliki empat anak, masing-masing Noor yang berusia 12 tahun, Imaan (11 tahun), Hibbah (8 tahun) dan Ayesha (6 tahun), ternyata menderita sepsis, pneumonia dan lubang di kedua paru-parunya saat kondisinya memburuk.
Tragisnya, dia meninggal tepat sebelum jam 10 malam pada hari Senin, dengan sertifikat kematiannya mencatat kegagalan pernapasan dan pneumonitis Covid-19 sebagai penyebabnya. "Putri-putrinya bertanya 'kapan mumi kembali?'. Saiqa adalah orang yang paling peduli, dia tidak bisa hidup tanpa keluarganya," sebut Maghul.
Data di Inggris menunjukkan satu dari lima pasien Covid yang paling kritis adalah wanita hamil yang tidak divaksinasi. Banyak ibu hamil yang mengalami koma di rumah sakit setelah menghindari vaksinasi karena ketakutan akan keselamatan.
Data juga menunjukkan satu dari lima pasien Covid yang menjalani terapi Extracorporeal Membrane Oxygenation (ECMO) hamil. ECMO hanya digunakan ketika paru-paru pasien rusak parah oleh Covid sehingga ventilator tidak dapat mempertahankan kadar oksigen.
Sepertiga dari semua wanita berusia antara 16 dan 49 tahun yang menggunakan ECMO sedang hamil, naik dari hanya enam persen pada awal pandemi, Maret 2020. Data dari lebih dari 100 ribu vaksinasi pada kehamilan di Inggris dan Skotlandia dan 160 ribu lebih di AS, tidak menunjukkan bahaya berikutnya pada janin atau bayi kalau sang ibu divaksina.
“Vaksinasi dapat membuat ada, bayi dan orang yang Anda cintai aman dan keluar dari rumah sakit. Anda dapat menerima vaksinasi kapan saja selama kehamilan, tetapi risiko yang dihadapi wanita hamil yang tidak divaksinasi menjadi sangat tidak sehat jika mereka terkena Covid-19. Hal itu menunjukkan dengan tepat mengapa kami menyarankan Anda untuk melakukannya (divaksinasi) sesegera mungkin,” tegas bidan terkenal di Inggris, Jacqueline Dunkley-Bent.
Editor: Aspian Nur