Hasilnya, vaksin Moderna buatan Amerika Serikat 96 persen efektif mencegah kasus gejala Covid-19 sementara Pfizer olahan Jerman efektif 89 persen. Terlepas dari itu, hasil penelitan ini membuktikan dua vaksin tersebut masih sangat protektif meski memiliki kelebihan dan kekurangan satu sama lain yang akhirnya bisa mengarah ke suntikan booster.
Pakar kesehatan menyebut Moderna lebih efektif karena memungkinkan lebih banyak waktu untuk mengisi sel kekebalan dan antibodi. Sejak vaksin disahkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) tahun 2020 lalu, pejabat dan pakar kesehatan meminta orang Amerika menerima vaksin mana pun yang diberikan karena semuanya sama efektifnya melawan virus.
Pfizer dan Moderna yang berbasis teknologi genetik yang disebut mRNA (messenger RNA) ditemukan sekitar 95 persen efektif dalam mencegah penyakit dalam uji klinis tahun lalu. Data dari CDC menunjukkan sampai Jumat (24/9/2021) hari ini, ada 221,9 juta orang telah menerima setidaknya satu dosis Pfizer dan 150,2 juta telah mendapatkan setidaknya satu dosis Moderna.
Penelitian yang dirilis pada bulan lalu telah menunjukkan selama beberapa bulan terakhir Moderna dan Pfizer sangat protektif terhadap Covid-19 dengan yang satu lebih protektif daripada yang lain. Sebuah penelitian di Kanada dari bulan Agustus yang mengamati penghuni rumah perawatan jangka panjang di Ontario, Kanada, menemukan empat minggu setelah dosis ke-2 diberikan, manula yang menerima vaksin Pfizer memiliki antibodi penetralisir 3,89 kali lipat lebih sedikit daripada mereka yang menerima suntikan Moderna.
Di Belgia, sebuah penelitian juga diterbitkan bulan lalu yang memeriksa 1.600 pekerja di sistem rumah sakit besar negara tersebut menemukan fakta penerima suntikan Moderna memiliki tingkat antibodi 2,65 kali lebih tinggi daripada yang diberi inokulasi Pfizer.
Terlebih lagi, laporan CDC yang dikeluarkan minggu lalu, menemukan vaksin Moderna 93 persen efektif melawan rawat inap dibandingkan dengan 88 persen untuk vaksin Pfizer dan 71 persen untuk vaksin Johnson & Johnson yang juga digunakan untuk melawan virus.
Laporan tersebut juga menemukan tingkat antibodi dalam sampel darah paling tinggi di antara penerima Moderna dalam kelompok sukarelawan sehat yang terpisah dibandingkan dengan tingkat untuk penerima Pfizer dan J&J.
Studi baru, yang diterbitkan dalam The New England Journal of Medicine tengah pekan tadi adalah yang terbaru untuk melaporkan temuan serupa.
"Asumsi dasar kami adalah bahwa vaksin mRNA berfungsi sama, tetapi kemudian Anda mulai melihat pemisahan," kata Dr Natalie Dean, ahli biostatistik di Emory University di Atlanta, kepada The New York Times dilansir dari laman Dailymail.com hari ini. “Ini bukan perbedaan besar, tapi setidaknya itu konsisten,” imbuhnya.
Untuk penelitian ini, para peneliti mengamati lebih dari 5.000 petugas kesehatan di 25 negara bagian yang terdaftar antara 28 Desember 2020, dan 19 Mei 2021. Dari anggota staf, 1.482 dinyatakan positif Covid-19 dengan setidaknya satu gejala sementara 3.449 sisanya dinyatakan negatif.
Efektivitas vaksin dievaluasi baik setelah vaksinasi parsial dan setelah vaksinasi penuh, yang berarti 14 hari setelah dosis kedua. Setelah satu dosis, vaksin Pfizer 77,6 persen efektif melawan infeksi simtomatik sedangkan vaksin Moderna 88,8 persen efektif. Setelah kedua dosis, suntikan Pfizer adalah 88,9 persen efektif sedangkan tusukan Moderna adalah 96,3 persen efektif.
Angka ini sebanding tanpa memandang usia, ras, jenis kelamin, atau memiliki kondisi yang sudah ada sebelumnya.
Ada beberapa teori tentang mengapa ada perbedaan. Satu teori adalah bahwa satu dosis vaksin Moderna adalah 100 mikrogram (μg) dibandingkan dengan 30 μg untuk Pfizer. Alasan lainnya adalah karena empat minggu berlalu di antara dua suntikan Moderna dibandingkan dengan tiga minggu untuk dua suntikan Pfizer, ini memungkinkan lebih banyak waktu untuk menghasilkan antibodi.
"Pada akhirnya, saya pikir ada perbedaan halus tapi nyata antara Moderna dan Pfizer," kata Dr Jeffrey Wilson, seorang ahli imunologi di University of Virginia di Charlottesville, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, kepada The Times. 'Dalam populasi berisiko tinggi, mungkin relevan. Akan lebih baik jika orang melihat dari dekat, Pfizer adalah palu besar, tetapi Moderna adalah palu godam,” tegasnya.
Terlepas dari itu, dosis ketiga vaksin Pfizer disetujui oleh FDA untuk mereka yang berusia 65 tahun ke atas dan mereka yang berisiko tinggi sakit parah sebagai suntikan booster. Moderna pun juga sudah mengirimkan data ke FDA tentang booster shot dan sedang menunggu persetujuan untuk meninjau aplikasi tersebut.
Editor: Aspian Nur