Menurut penelitian yang diterbitkan di Journal of Reward Deficiency Syndrome pada Juni 2015, berdoa setiap hari tampaknya dapat mencegah pencandu narkoba maupun alkohol untuk kembali menggunakan substansi-substansi tersebut. Studi yang dilakukan oleh National Instituted of Health menemukan orang yang berdoa setiap hari memiliki risiko 40% lebih rendah terkena hipertensi dibanding mereka yang tidak rutin berdoa.
Sebuah studi juga mengungkapkan saat berdoa, otak akan melepaskan hormon oksitosin yang membuat orang merasa lebih bahagia. Perasaan ‘Aku bisa bergantung kepada sesuatu untuk melindungiku’ saat berdoa juga membuat orang merasa nyaman.
Berdoa dan meditasi efektif untuk menurunkan reaktivitas terhadap kejadian-kejadian traumatis dan negatif. Ini karena saat berdoa, orang akan fokus dengan pikiran-pikiran di luar dirinya. Selain itu, berdoa melibatkan korteks prefrontal, bagian dari otak yang mengatur fungsi eksekutif --misalnya, pengendalian diri-- dan membuat orang lebih bisa mengambil keputusan yang baik.
Menurut Andrew Newberg, ketua penelitian di Marcus Institute of Integrative Health, manfaat berdoa sangat terkait dengan otak. Ia mengatakan bahwa berdoa memanfaatkan area otak yang digunakan untuk membaca, berbicara, dan berpikir, tetapi dengan cara yang lebih kompleks. “Konsepnya begini, makin sering Anda gunakan otak, maka akan makin baik fungsinya dan Anda makin dapat mencegah penuaan dan demensia. Otak dan tubuh kita diciptakan untuk digunakan, dan makin sering kita menggunakannya, kita akan menjadi lebih baik,” jelasnya, dilansir Tonic Vice.
Selain berdoa, Anda juga tak boleh melupakan hal-hal lainnya agar tubuh selalu sehat. Konsumsi makanan bergizi seimbang sangatlah penting untuk membuat pikiran lebih jernih dan tubuh lebih bugar. Tidur yang cukup pun harus menjadi prioritas karena membantu menajamkan otak. Begitu juga dengan olahraga, lakukanlah minimal lima kali seminggu. (lic)