Pada saat penertiban, tim dibantu warga yang tinggal di lokasi Pulau beras Basah, meski pada awalnya mereka menolak untuk ditertibkan. Sebab, penertiban agar Pulau Beras Basah yang menjadi ikon Kota Bontang ini tampak bersih dan bebas dari kesan kumuh.
Dikatakan Asisten Pemerintah Kota Bontang, Bahri, sebenarnya penertiban ini merupakan hasil program yang sudah disepakati bersama sebelumnya. “Kita tidak langsung melakukan penertiban tapi pendekatan kenapa? karena yang ditertibkan kan masyarakat juga. Kita mengadakan pendekatan dari pariwisata, angkatan laut, kodim, babinkamtibmas, babinsa, koramil, dan telah adakan silaturahmi. Nah, dari hasil laporan, disepakati pembongkaran,” kata Bahri.
Dilanjutkannya, pada dasarnya pembongkaran ini dilakukan sehari sebelunya, yakni pada Rabu (11/4) kemarin lusa. Namun lantaran ada permintaan warga, sehingga mundur satu hari. “Beliau-beliau disini, meminta waktu hari ini, ya kami tunda lagi. Dan kita lakukan penertiban, supaya lebih tertib,” jelasnya.
Sebelum ditertibkan, sambung Bahri, seluruh bangunan liar yang ada tersebut membuat pulau terlihat sangat kumuh, khususnya pada asat memasuki area pulau, sangat nampak dengan jelas. “Mungkin tadi dari sana kita lihat bagaimana kumuhnya, sampai kepala Dinas Pariwisata Provinsi infonya waktu itu, tidak mau turun kesini, tapi sekarang setelah ditertibkan terlihat bersih dan tidak kumuh,” ujarnya.
Kegiatan ini akan dilakukan secara berkala, jika teranggarkan di Perubahan APBD 2018 maka dimungkinkan ada patroli rutin dari Pos AL, BPPD atau Polair, yang akan menjaga pulau tersebut. “Bagusnya ada patroli disini, jadi jika ada yang mulai bangun langsung ditegur. Ibarat memadamkan api rokok lebih mudah dari memadamkan api besar. Jadi nggak perlu lagi, banyak-banyak datang kesini untuk membongkar, dan kalau apinya besar bakal repot lagi,” jelas Bahri, mengumpamakan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Bontang Bambang Cipto memastikan minggu depan sudah bisa dilakukan patroli. Jika ada yang nekat bangun, maka akan langsung dibongkar. “Langsung kita bongkar, saya kira ngga perlu peringatan, negosiasi sudah kita lakukan. Salah satu pihak melanggar kesepakatan, ya kita tindak saja, bukan arogan frontal ya tapi itu sudah kesepakatan, untuk tidak membangun tenda-tenda lagi,” jelasnya.
Untuk penataan ulang, lanjut Bambang, Disporapar akan memperlebar jembatan penghubung kapal ke Beras Basah sampai 4 meter. Termasuk rencana penambahan satu unit pos penjagaan di Beras Basah.
“Kita akan lakukan penataan ulang, tahun ini, jembatan jalan kaki diperlebar sampai 4 meter. Dan ada ikon Beras Basah, sehingga terlihat lebih cantik. Biar orang yang diving kesini ngga kapok. Dia akan datang lagi, tidak sendiri tapi kembali bawa bawa orang lain, keluarganya atau temannya lebih banyak,” ujarnya.
Jika penataan Pulau Beras Basah tertata baik maka multiflyer efeknya akan luar biasa. Karena tidak hanya menyentuh dari sector pariwasatanya saja, melainkan jga kearah ekonomi kreatif. “Bayangkan saja orang datang, rezeki terminal juga akan naik, termasuk hotel disini, PAD Bontang semua akan meningkat,” kata Bambang.
Menurut Bambang, sedikit demi sedikit semua tempat wisata di Bontang akan dibenahi. Yang jelas lanjutnya, tidak ada niat untuk mengusir atau menyengsarakan masyarakat. (cil)