Secara keseluruhan, total nilai ekspor Kaltim mencapai 17,48 miliar dolar. Angka ini kata Habibullah telah mengalami kenaikan dari total nilai ekspor para 2016 lalu sebesar 26,30 persen.
Adapun dari dua jenis SDA, sektor yang paling berkembang berasal dari non migas khususnya dari hasil perkembangan sektor pertambangan.
Padahal sebelumnya, perusahaan tambang di Kaltim banyak gulung tikar lantaran harga batu bara di luar negeri sangat turun.
“Namun perlahan saat ini nilau jual batu bara meningkat sehingga ekspor pertambangan kembali naik saat ini,” jelasnya.
Adapun beberapa negara yang menjadi tujuan ekspor migas dari Kaltim sebutnya terdiri dari lima negara terbesar.
“Lima itu diantaranya Taiwan, Jepang, Korea, Australia dan Tiongkok,” urainya.
Sedangkan ekspor khusus non Migas dari Kaltim justru lebih banyak dari pada sektor migas.
“Ada sepulun negara yang menjadi tujuan utama Kaltim dalam mengekspor non migasnya yaitu India, Tiongkok, Jepang, Korea,, Taiwan, Malaysia, Philipina, Thailand, Bangladesh dan Italia,” sebut Habibullah.
Dibalik meningkatnya ekspor migas dan non migas, Kaltim mampu menurunkan nilai impornya dari 2016 hingga 2017.
“Ada penurunan nilai impor dari tahun 2016 12,94 persen atau 3,23 miliar dolar diantaranya dari barnag nigas turun hingga 8,05 persen sedangkan non migas turun 24,57 persen,” tutup Habibullah. (ms)