“Dulu sewaktu kuliah saya pernah terjatuh dan kepala saya mengalami benturan yang sangat keras. Memang pada saat itu efeknya belum terasa, namun baru terasa setelah 10 tahun kemudian,” katanya, kemarin.
Yudis, sapaan akrabnya, mengungkapkan pada awalnya dirinya ragu mengikuti saran dokter untuk melakukan terapi public speaking karena pada dasarnya dirinya merupakan pribadi yang tidak terampil berbicara di depan umum dan cenderung pemalu.
Awalnya dirinya ragu, namun dengan tekad dan semangat untuk sembuh akhirnya ia mengikuti saran dokter. Salah satu cara yang ditempuhnya ialah dengan memutuskan untuk bergabung pada suatu komunitas pecinta roda empat.
“Sederhananya begini, ketika kita bergabung pada suatu komunitas maka kita akan bertemu dengan banyak orang, dan dari situlah kita bisa sedikit demi sedikit mengasah kemampuan public speaking kita,” ungkapnya.
Ternyata benar. Terapi public speaking mengharuskan otak bekerja secara ekstra. Di samping mengharuskan orang memiliki wawasan luas, public speaking menambah kemampuan seseorang dalam hal kepercayaan diri.
“Alhamdulillah karena otak saya terbiasa untuk bekerja ekstra, akhirnya lambat laun penyakit yang saya derita sedikit berkurang dan sekarang saya tidak ketergantungan pada obat sakit kepala lagi,” tegas ayah satu anak yang kini dipercaya menjadi ketua klub komunitas roda empat di Tenggarong dimana dia bergabung. (hei)