Long Pahangai Bangkitkan Kembali Potensi Lokal
2 menit baca666 kali dibaca
Samarinda - Pihak terkait di Kecamatan Long Pahangai, salah satu kawasan di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, yang berbatasan dengan Malaysia, akan coba membangkitkan kembali potensi lokal yang pernah jaya dan mampu mencukupi kebutuhan lokal.
“Dulu warga Long Pahangai membuat gula sendiri, membuat kopi sendiri, bahkan menghasilkan pangan beras dan nonberas secara mandiri, namun kini bergeser karena lebih suka membeli kebutuhan dari luar. Kemampuan inilah yang akan kami bangkitkan lagi,” tutur Camat Long Pahangai Lawing Ngau di Samarinda, Selasa.
Dalam sejarah pertumbuhan penduduk di Long Pahangai, lanjutnya, hampir setiap kepala keluarga memiliki tanaman tebu dan memiliki peralatan sederhana untuk memeras tebu, kemudian mengolahnya menjadi gula. Ketika ada acara adat atau acara tertentu, maka masing-masing memproduksi gula secara mandiri.
Namun seiring dengan perkembangan zaman dan banyaknya pedagang gula yang masuk ke kawasan itu, warga kemudian lebih tertarik membeli karena merasa lebih praktis dan merasa kualitas gula yang dijual lebih putih, padahal dari sisi rasa tentu sama.
Mengingat pergeseran pola pikir yang suka membeli, lanjut dia, kini di Long Pahangai tinggal 1-2 kk saja yang masih mempertahankan tanaman tebu dan bisa memproduksi gula secara mandiri.
Kemudian untuk tanaman kopi pun demikian, yakni dulunya terdapat lahan kopi yang luas dan subur sehingga dari bijih kopi hasil panen petani setempat, kemudian digiling atau ditumbuk secara mandiri untuk mencukupi permintaan lokal.
Termasuk padi sawah dan padi ladang. Untuk padi sawah dulu pernah berjalan baik ketika masih dilakukan pendampingan dari suatu lembaga, namun kini tidak jalan karena kurangnya pembinaan.
Sedangkan untuk padi ladang, sampai sekarang masih berjalan secara tradisional dan berpindah namun masih dalam satu hamparan ladang, kemudian mereka akan kembali lagi sekitar lima tahun ke titik yang sebelumnya ditanami padikarena mereka belum mengenal pupuk, pengairan dan teknologi pertanian.
Untuk itu, lanjutnya, mulai 2018 ia mengarahkan masing-masing kampung mengembangkan potensi lokalkarena di satu kampung ada yang masih memiliki tanaman tebu, kopi, kakao, kopi, dan kawasan padi ladang.
Menurutnya, luas tanaman kakao di Long Pahangai lebih dari 300 hektare, lahan padi ladang sekitar 1.000 ha. Dulu, tanaman kopi lebih luas ketimbang lahan kakao sekarang, namun seiring kualitas produksi kopi yang menurun, petani kemudian beralih tanam kakao.
“Saya sudah merancang mengangkat potensi ekonomi per kampung. Jika di kampung A potensial kopi, maka produk unggulan ini yang dikembangkan. Begitu seterusnya,” ujarnya. (ant)










