Harga Material Bangunan Terus Meningkat
2 menit baca954 kali dibaca
TANA TIDUNG – Bahan material bangunan di Kabupaten Tana Tidung (KTT) khususnya di Kecamatan Sesayap, semakin hari semakin meningkat harganya. Sehingga, dengan tingginya harga material tersebut dianggap sebagai penyebab melambannya pembangunan pemukiman di kawasan tersebut.
Menurut salah satu pemilik toko bangunan, Yuli, untuk material bangunan yang sifatnya permanen dalam tiga bulan terakhir selalu mengalami peningkatan, apalagi jelang akhir tahun.
“Hampir dipastikan dalam tiga bulan selalu alami kenaikan, selain harga dasar dari pemasok ditambah dengan biaya transportasi, ongkos angkut hingga ongkos buruh yang harus ditanggung pedagang agar pasokan material bisa diterima oleh masyarakat yang akan melakukan pembangunan makanya jangan heran harga material disini terbilang cukup tinggi,” kata Yuli.
Ia menilai untuk material berupa semen, besi hingga seng termasuk peralatan dan fasilitas penunjang untuk membangun masih diperoleh dari pemasok yang ada di Tarakan, rata-rata pedagang hanya mengambil keuntungan kecil setelah perhitungan harga dasar ditambahkan dengan berbagai biaya yang harus ditanggung oleh pedagang, itupun ia mengakui harus pandai-pandai membandingkan harga antara satu pemasok dengan pemasok lainnya supaya mendapatkan material bagus dengan kualitas tinggi akan tetapi dengan harga minim.
“Harus pandai-pandai lah membandingkan harga antara satu pemasok dengan pemasok lainnya supaya tidak terlalu mendapatkan harga tinggi dengan kualitas bagus sehingga saat dijual disini tidak terlalu tinggi harganya dibandingkan dengan toko bangunan lainnya, perbandingan atau perbedaan harga seribu rupiah sampai Rp 2 ribu kan lumayan,” jelasnya.
Dengan naiknya harga material dalam beberapa bulan terakhir ini, omset penjualan alami penurunan khususnya lima bulan terakhir ini karena minimnya masyarakat yang lakukan proses pembangunan. Sebagian pihak beranggapan kurang maksimalnya penyelenggaraan pemerintahan membuat perputaran uang ikut-ikutan tidak maksimal, seluruh masyarakat dan proses pembangunan sangat bergantung pada pengelolaan APBD.
“Terlihat memang dalam dua tahun sebelumnya ketika pembangunan sempat terhenti karena persoalan internal di pemerintahan ikut juga berpengaruh pada pembangunan yang dilakukan oleh masyarakat, dan hampir semua sektor ikutan terhenti, makanya dalam lima bulan terakhir ketika proses penyelenggaraan pemerintahan tidak berjalan maksimal ditambah dengan naiknya harga material maka omset penjualan kami pun ikut menurun dan ini sudah dipastikan pembangunan perumahan masyarakat ikutan berkurang,” paparnya. (ifa)










