“Beberapa kali tertangkap ketika menggunakan pesawat. Karena ketika ada orang yang membawa narkoba, pasti gerak-geriknya mencurigakan. Apalagi, petugas keamanan itu memiliki insting yang kuat,” jelasnya kepada media ini, Selasa (21/11).
Menurut perempuan yang akrab disapa Dewi ini, peredaran narkoba di Tarakan sangat luar biasa. Sebab, petugas beberapa kali menggagalkan penyelundupan narkoba, baik yang menggunakan transportasi laut, maupun udara. “Kalau yang lewat jalur laut, banyak. Tetapi ada juga yang nekat menggunakan jalur udara,” tuturnya.
Dari 160 pemberhentian kapal itu, kebanyakan buatan warga sendiri. Karena kebanyakan pelabuhan kecil untuk speedboat berukuran kecil dan kapal para nelayan. Namun, dengan adanya pelabuhan kecil itu, dimanfaatkan oleh pengedar sebagai tempat untuk penyelundupan narkoba.
Selama ini, pihaknya bersama instansi terkait seperti Kepolisian, TNI, Bea Cukai dan lainnya, terus bersinergi dalam melakukan pengawasan. Terlebih lagi, jika aparat tegas dan melakukan pemeriksaan terhadap orang yang mencurigakan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), maka dapat dipastikan narkoba akan tuntas. “Pasti teratasi kalau semuanya tegas. Semuanya harus saling bersinergi untuk itu,” kata Dewi.
Untuk personel BNN Tarakan sendiri, masih sangat minim. Meskipun demikian, tidak mengurungkan semangat dalam melakukan pemberantasan narkoba. Pihaknya juga belum memiliki rencana penambahan personel pada 2018 mendatang.
“Tidak masalah minim. Karena kita juga bekerjasama dengan petugas lainnya. Insya Allah, kita akan terus bekerja dalam melakukan pemberantasan narkoba di Kaltara. Semua pelabuhan akan diawasi. Intelijen juga diturunkan untuk melakukan pengawasan,” tukasnya. (mus217)