Ia menyebut, keberhasilan itu terjadi saat aparat kepolisian, Kodim, dan Satpol PP ikut turun langsung dalam pengawasan di lapangan. Kondisi SPBU saat itu lebih tertib dan terkontrol.
“Waktu itu pernah tertib karena pengawasan dilakukan bersama dan tegas,” ujar Moh. Nafis pada pekan ini.
Namun, ia menilai kondisi saat ini kembali mengalami penurunan. Lemahnya pengawasan disebut menjadi faktor utama.
Ia juga menyoroti masih adanya dugaan penyalahgunaan barcode serta praktik pengetapan BBM di sejumlah titik. Hal itu membuat antrean kembali terjadi.
“Kalau pengawasan longgar, masalah ini pasti muncul lagi,” tegasnya.
Nafis mendesak agar pola pengawasan terpadu kembali diaktifkan. Ia menilai kolaborasi lintas instansi perlu diperkuat agar distribusi BBM subsidi lebih tertib dan tepat sasaran.