"Tim pemantauan ini mengawasi apakah ijin mereka (WNA) itu sesuai dengan yang dikerjakan di Indonesia, khususnya di Kaltara," kata Hermawan dilansir dari Korankaltara.com.
Secara teknis, tim ini memberi perhatian khusus perihal keberadaan WNA pada perusahaan di Kaltara terutama menyambut sejumlah megaproyek investasi dalam beberapa tahun ke depan.
"Diantara fokus kami memang mendatangi untuk mengecek keberadaan WNA di perusahaan perusahaan karena biasanya WNA yang ke Kaltara untuk bekerja di perusahaan," sebutnya.
Di samping itu, Tim POA turut memantau perkembangan informasi dan kasus yang bersumber dari masyarakat. Informasi yang masuk segera ditindaklanjuti untuk mendapatkan fakta di lapangan.
"Ketika ada kasus isu dan informasi dari masyarakat kami datangi. Kalau ternyata ada ketidaksesuaian, langsung dikoordinasikan penanganannya dengan stakeholder terkait." paparnya.
Keluhan dan protes dari masyarakat perihal keberadaan WNA pada proyek di Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) Tanah Kuning menjadi hal menonjol yang ditangani Tim POA tahun lalu.
"Banyak protes masyarakat karena kerjaan unskill (tanpa keahlian) justru dikerjakan oleh orang-orang China," ungkap Hermawan.
Tim POA kemudian melakukan koordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kaltara untuk mengetahui status pekerjaan yang disorot masyarakat.
Pada kasus itu, didapati jika WNA dimaksud merupakan tenaga ahli yang dipekerjakan perusahaan.
Mereka turun langsung mengecek pekerjaan kasar karena tidak yakin dengan kualitas pekerja Indonesia.
"Mereka itu tenaga ahli yang tidak yakin dengan orang Indonesia. Jadi turun langsung, seperti membetulkan ikatan besi, dicek supaya sempurna. Kelihatannya memang dia yang kerja, tapi sebenarnya cuma cek," papar Hermawan.
Tim POA dipastikan terus memantau keberadaan WNA di Kaltara. Ini tidak terlepas dari maraknya oknum WNA yang menyalahi aturan ijin tinggal nya di Indonesia.
"Selain pekerja di perusahaan, kami juga khawatir mereka (WNA) masuk sebagai turis, tapi ada maksud lain," kata Hermawan.
"Biasanya di Kaltara itu sebenarnya untuk meneliti, karena sumber daya alam banyak. Mereka datang cek potensi, cek lapangan, mau memastikan, itu sering dilakukan," ungkap Hermawan.
Editor: Aspian Nur