Dokter spesialis anak di RSUD Tarakan Franky Sientoro mengatakan, penyebab dari gagal ginjal progresif antipikal yang diderita oleh satu pasiennya tersebut belum bisa dipastikan sehingga ini menjadi masalah.
Sebelumnya, ada juga pasien perempuan usia 15 tahun asal Bunyu dicurigai juga mengidap gagal ginjal akut. Namun yang bersangkutan telah meninggal dunia.
“Pada kasus pertama, baru dicurigai. Saya hanya merawat selama 2 hari. (Pasien) masuk sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri dan langsung mendapatkan perawatan insentif, dipasang ventilator, dan meninggal dunia. Kasus yang kedua ini kami yakin bahwa anak 2 tahun ini mengidap gagal ginjal progresif antipikal,” ujar Franky dilansir dari Korankaltara.com Sabtu (22/10/2022) hari ini.
Melihat riwayat, anak tersebut mengonsumsi obat-obatan, secara runut dan progresifnya cepat dengan penyebab yang juga khas. Gejala dapat dilihat dengan adanya bengkak pada beberapa bagian tubuh, sesak nafas dan gejala klinis lain.
Awalnya, pasien usia 2 tahun ini mengeluhkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Setelah berobat, empat hari kemudian langsung mengalami pemburukan yang cepat pada fungsi ginjalnya.
“Anak datang dengan keluhan lemas, muntah pada hari Rabu. Sesuai prosedur, anak-anak seperti ini kita diagnose dehidrasi. Kita loading cairan, ternyata anak tidak membaik. Setelah kita gali lebih dalam, ternyata tidak BAK (buang air kecil) dan sudah berjalan selama tiga hari,” ungkapnya.
Dari kondisi ini, pihak rumah sakit mendapati adanya peningkatan serum kreatinin yang tidak normal. Di tahap lever juga menunjukan tanda-tanda. Normalnya, serum kreatinin di bawah 1, tetapi ini nilainya mencapai 11.
Namun demikian, karena ahli ginjal anak belum ada di RSUD dr H Jusuf SK maka yang bersangkutan sedang diupayakan dirujuk ke Makassar. Di Indonesia hanya terdapat 14 rumah sakit rujukan, yang rata-rata merupakan rumah sakit pendidikan.
“Setelah diskusi tadi pagi (kemarin), bahwa kemampuan rumah sakit kita untuk mencuci darah minimal untuk anak usia 15 tahun ke atas. Untuk sementara penanganan gagal ginjal ini melalui cuci darah. Kalau sudah benar-benar rusak, dilakukan pencangkokan ginjal. Jadi, tahap akhirnya memang harus cangkok. Angka kematian secara nasional juga cukup tinggi, lebih dari 50 persen dari kasus yang ditemukan,” paparnya.
Seorang keluarga pasien gagal ginjal akut progresif antipikal Evayanti mengatakan keponakannya tersebut sebelumnya dibawa ke puskesmas, dengan keluhan muntah, batuk dan demam lalu diberikan obat sirup tiga macam.
Saat mengonsumsi obat, muntahnya berhenti. Tetapi sejak Minggu, anak tersebut tidak buang air kecil. “Lalu, dia bawa anaknya ke rumah sakit hari Rabu lalu. Setahu saya, setiap anaknya sakit dibawa ke puskesmas. Awalnya, saya tanya ‘anakmu sakit apa?’ Mengetahui anaknya tidak BAK, dikiranya biasa saja. Setahu saya, dia ini tidak pernah membiarkan anaknya sakit. Begitu ada gejala langsung dibawa ke puskesmas,” papar Evayanti.
Editor: Aspian Nur