Level inflasi kelompok transportasi di Tanjung Selor jauh di atas inflasi nasional sebesar 16 persen. Jika dibandingkan daerah penghitungan inflasi lain di regional Kalimantan, inflasi transportasi di Tanjung Selor juga menempati urutan puncak.
Sebagai perbandingan, inflasi gabungan kelompok transportasi (yoy) di Kalimantan Timur yang dihitung dari Kota Balikpapan dan Samarinda hanya di level 6,68 persen. Kemudian di Kalimantan Tengah, inflasi transportasi di Kota Sampit pada Agustus 2022 berada di level 5,18 persen. Sedangkan di Kota Palangka Raya di level 13,50 persen.
Beralih ke Kalimantan Selatan, gabungan inflasi kelompok transportasi dari tiga lokasi di Banjarmasin, Tanjung dan Kotabaru hanya di level 7,65 persen. Adapun, di Kalimantan Barat, Singkawang, Pontianak dan Sintang tergolong cukup tinggi, namun masih di level 17,17 persen.
Tingginya inflasi transportasi di Kalimantan Utara juga tercermin dari Kota Tarakan yang mencapai 26,74 persen atau tepat berada di posisi kedua tertinggi di regional Kalimantan setelah Tanjung Selor. Apabila digabungkan, inflasi transportasi di Kaltara pada September 2022 mencapai 27,88 persen.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara, Slamet Romelan memaparkan, sumbangan inflasi terbesar di kelompok transportasi Kaltara adalah tarif angkutan udara. Kondisi yang terjadi saat ini dinilai bukan lagi sebagai kenaikan harga, melainkan pergantian harga. “Khusus untuk tiket pesawat, bahkan bukan kenaikan harga, tapi ganti harga. Semenjak beberapa bulan terakhir, tiket pesawat sudah di posisi harga tertinggi terus, baik di Tarakan dan Tanjung Selor,” kata Slamet dilansir dari Korankaltara.com Selasa (4/10/2022) hari ini.
Penumpang pesawat asal Kaltara juga tidak lagi bisa menjadikan bandara lain terdekat sebagai alternatif penerbangan. Mengingat harga yang dipatok melalui bandara tersebut juga tergolong tinggi.
“Biasanya kami ambil alternatif (harga lebih murah) melalui bandara di Berau, tapi sekarang sama saja. Saya masih ingat waktu itu Tanjung Selor – Balikpapan bisa Rp800 ribu sampai Rp900 ribu, sedangkan dari Berau kita masih bisa dapat harga Rp400 ribu sampai Rp500 ribu. Tapi kalau sekarang selisihnya sekitar Rp40 ribu sampai Rp50 ribu saja,” paparnya.
“Kalau lewat Tarakan juga sama. Harga tiket dari Tanjung Selor itu sama dengan harga tiket dari Tarakan yang ditambah harga tiket speedboat dan ditambah harga taksi dari pelabuhan ke bandara,” ungkap Slamet.
Tingginya inflasi transportasi di Kaltara karena adanya persaingan pasar yang tidak sehat. Khususnya dari sisi penyedia layanan transportasi yang beroperasi dimana jumlah maskapai yang beroperasi sangatlah minim.
“Sampai saat ini kami pun masih menunggu adanya penyedia layanan transportasi udara lain. Karena hasil diskusi dengan Kepala OPD di Kaltara, diinformasikan segera ada maskapai lain, tapi sampai sekarang kan belum,” jelasnya.
Berdasarkan hasil pertemuan Slamet dengan Wakapolda Kaltara pada Agustus 2022, diketahui jika kenaikan harga tiket pesawat di Tanjung Selor mencapai 114 persen dibandingkan periode sama tahun 2021.
Sementara grafik kenaikan di Tarakan berada di level 56 persen. Kondisi ini mencerminkan tren inflasi yang meningkat tajam pada tahun 2022 ini.
Koordinator Fungsi Statistik Distribusi BPS Kaltara, Panca Oktianti menambahkan, tingginya inflasi transportasi di Kaltara diperparah dengan dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Hal ini menyebabkan kenaikan tarif angkutan transportasi di dalam kota maupun antarkota.
“Kenaikan harga BBM juga menyebabkan peningkatan inflasi transportasi. Dimana imbasnya adalah tarif penyedia transportasi di dalam kota maupun antar kota mengalami peningkatan,” jelasnya.
Editor: Aspian Nur