Penyakit yang diawali demam tinggi ini cukup mengkhawatirkan, terlebih lagi bisa menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan tepat.
Kabid Pelayanan Medik di RSUD Tarakan, Yufriadi Yunus mengatakan, jumlah pasien DBD cukup tinggi, sebagian besar ruang perawatan anak yang ada, saat ini penuh dengan mayoritas pasien demam berdarah.
“Memang ada peningkatan kasus. DBD ini penyakit endemi, tapi perlu di waspadai karena akibat yang ditimbulkan dan penularannya. Terbanyak pasien DBD masih anak-anak,” kata Yufriadi dilansir dari Korankaltara.com Sabtu (3/9/2022) hari ini.
Pasien terindikasi gejala DBD dilakukan pengecekan sampel darah khusus di laboratorium. Dari gejala awal DBD ini seperti demam tinggi selama tiga hari disertai influenza. Saat pemeriksaan trombosit yang cenderung menurun.
Setelah tiga hingga empat hari, pasien biasanya akan mengalami shock, terutama pada anak yang paling dikhawatirkan.
Dalam pemeriksaan, pihaknya lebih menyarankan rawat inap, setelah dipastikan hasil laboratorium menyebutkan ada virus dengue pada anak.
“Sebaiknya, anak dengan gejala demam atau DBD segera dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Kalau DBD ini sebenarnya yang ditakutkan gejala shock-nya. Dalam gejalanya itu, tidak bisa di prediksi anak yang shock,” sebut Yufriadi lagi.
Membedakan demam berdarah dengan demam biasa, sebenarnya juga sulit dilakukan. Namun, jika dalam tiga hari diberikan obat, lalu tidak ada tanda-tanda demam yang diderita anak menurun, bisa diduga merupakan salah satu gejala DBD.
“Memang agak susah menentukan kalau demam di hari pertama itu. Tapi tidak menutup kemungkinan di setiap demam itu ada DBD. Kalau sudah gejala, ya memang sebaiknya rawat inap supaya bisa terus dikontrol. Paling utama pemberian cairan infus,” jelasnya.
Mengantisipasi penyebaran virus dengue, masyarakat juga diminta agar lebih menjaga kebersihan dan tidak hanya di lingkungan tertentu saja.
Tetapi juga di lingkungan sekitar harus dipastikan bersih, tidak terdapat genangan air dalam waktu lama untuk mencegah nyamuk berkembang biak. Sedangkan untuk penampungan air yang digunakan, ia menyarankan agar diberikan bubuk Abate.
Ditambah dengan penyemprotan nyamuk secara berkala di sekitar rumah, terutama di musim penghujan saat ini.
“Semua memang harus bersinergi, tidak di rumah kita saja. Ya harus sama-sama, baik dari individu, masyarakat lain dan pemerintah juga. Jadi, jaga kebersihan jangan hanya di rumah, malah nyamuk Aedes aegypti cepat berkembang biaknya di tempat genangan air yang bisa jadi ada di tempat lain,” tutup Yufriadi.
Editor: Aspian Nur