Kepala UTD PMI Tarakan Edi Samudro mengatakan, terjadi peningkatan permintaan darah trombosit selama 2022 ini sekitar 10 kantong per hari.
Hal ini dikarenakan RSUD dr H Jusuf SK mampu melakukan pengambilan darah secara mandiri. “Cuma kami tidak tahu apakah ini berkaitan dengan kasus DBD atau penyakit lainnya, karena selain DBD beberapa penyakit tertentu juga membutuhkan trombosit,” kata Edi dilansir dari Korankaltara.com Jumat (2/9/2022) hari ini.
PMI Tarakan tidak pernah mengetahui penggunaan darah untuk jenis penyakit apa, karena PMI hanya menyediakan darah sesuai dengan jenis dan jumlahnya yang dibutuhkan.
“Jadi kami di sini memang tidak bisa mengetahui jenis penyakitnya apa, tetapi kami wajib menyediakan permintaan darah baik jenis maupun golongan. Kalau untuk trambosit jelas ada kenaikan, yang sebelumnya 30 menjadi 40, untuk jumlah pastinya saya belum dapat info,” sebut Edi lagi.
Untuk permintaan darah trombosit saat ini mudah dipenuhi karena terdapat alat baru berupa Aphereses yang bisa digunakan untuk mengambil komponen darah yang diinginkan, sehingga tidak perlu mengambil darah secara keseluruhan.
“Penggunaan alat Aphereses ini jauh lebih praktis dan efisien, bahkan satu pendonor mampu menghasilkan 10 kantong trombosit. Beda dengan cara manual, yang mengambil darah secara menyeluruh, setelah itu baru dipisahkan antara sel darah merah, trombosit, dan lain sebagainya. Jadi prosesnya lebih panjang, makanya darah trombosit yang dihasilkan juga sedikit, beda dengan menggunakan Aphereses,” paparnya.
RSUD dr. H. Jusuf SK hanya minta ke PMI saat membutuhkan dalam jumlah banyak, kalau hanya sedikit mereka sudah bisa menyediakannya secara mandiri.
“Tidak sulit mendapatkan pendonor di Tarakan, selain ada yang suka rela datang ke PMI, ada juga kegiatan donor darah masal, baik yang dilakukan organisasi tertentu, maupun program yang telah dijalankan PMI dalam pemenuhan darah untuk masyarakar Tarakan,” tutup Edi.
Editor: Aspian Nur