Meningkatnya pembudidaya dan produksi laut di Nunukan juga jadi penyebab limbah it uterus bertambah. “Kami hitung per tali bentangan ada sekian botol, kalau dikalkulasi semuanya ada 25-an ton limbah dari botol plastik rumput laut,” jelas Suhadi dilansir dari laman Korankaltara.com Jumat (19/8/2022) hari ini.
Penggunaan botol sebagai pelampung rumput laut biasanya digunakan pembudidaya hanya 2 sampai 3 siklus atau panen. Artinya ketika masuk panen selanjutnya ada ribuan bahkan puluhan ribu botol yang dibuang.
“Tapi, ini untuk botol plastik yang tipis, beda kalau botol yang agak tebal itu bisa sampai 4 kali panen,” imbuhnya.
Seharusnya pembudidaya menggunakan pelampung berbentuk bola yang agak tebal. Sebab, ketahanannya bisa sampai 5 hingga 7 tahun. “Tapi, di Nunukan stoknya terbatas. Ada yang berbentuk bola yang diproduksi di Nunukan tapi tipis, makanya dikaji lagi untuk dilakukan penebalan,” tambahnya.
Dari 25 ton sampah plastik, pihaknya hanya bisa mengampulkan tidak sampai 10 persen per bulan. “Karena kita ada kendala terkait tenaga kerjanya. Walaupun kita hargai botolnya, tapi lebih menguntungkan dari mabetang itu. Mereka lebih condong ke situ, makanya sampah terbengkalai sudah,” jelasnya.
Dinas Perikanan Nunukan sudah sering memberikan edukasi kepada masyarakat. Namun hasilnya tetap sama.
“Kalau kami diamkan begini terus, maka ekosistem di laut akan tercemar dan dampaknya itu akan sulit lagi menanam rumput laut. Lebih parahnya lagi, limbah ini mempengaruhi kesehatan,” tutup Suhadi.
Editor: Aspian Nur