Terlebih saat perkembangan awan hujan cukup tinggi yang berpotensi curah hujan tinggi disertai kilat hingga petir serta cuaca ekstrem.
Terhadap hal itu, perlu strategi berupa kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana hidrometeorologi tersebut.
Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang mengatakan, kerawanan bencana di Kaltara menjadi perhatian tersendiri. Apalagi dominan bencana hidrometeorologi atau yang dipicu oleh faktor meteorologi seperti siklus air dan curah hujan tinggi yang sering menghantui provinsi ke-34 ini.
“Kalau yang tinggi di sini banjir dan longsor jadi bencana hidrometeorologi. Saat basah, sebabkan banjir, tanah longsor. Kalau kering, sebabkan kebakaran hutan,” kata Zainal dilansir dari laman Korankaltara.com Sabtu (13/8/2022) hari ini.
Pemprov Kaltara sudah melakukan pemetaan terhadap daerah rawan bencana. Beberapa daerah yang kerap terdampak bencana hidrometeorologis seperti Tarakan dan Nunukan menjadi perhatian.
“Kami akan buat rencana penanggulangan bencana dan desa tangguh bencana. Sedangkan untuk pemetaan ini sudah dilakukan dan kami juga serahkan ke BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana),” jelasnya.
Adapun untuk beberapa daerah rawan, dia merincikan, seperti Kota Tarakan kerap terjadi longsor. Hal itu diakibatkan kondisi topografinya, dengan kontur tanah bukit dan berpasir. “Kalau banjir di Nunukan, seperti di Lumbis Pansiangan, Sembakung karena itu kiriman dari Malaysia,” pungkas Zainal.
Editor: Aspian Nur