“Belum dibersihkan (ranjaunya). Sebenarnya ada operasi untuk membersihkan ranjau, tapi nanti mungkin pemda yang akan berkoordinasi dengan TNI Angkatan Laut,” kata Zaenal dilansir dari laman Korankaltara.com Rabu (27/7/2022) hari ini.
Meski sudah disebutkan dalam peta laut, namun untuk banyaknya ranjau dan lokasi kedalaman laut belum diketahui karena untuk memastikan posisi ranjau laut ini harus dilakuan operasi khusus dan hal tersebut merupakan mitigasi peperangan yang sudah dirancang oleh Jepang dalam melawan sekutu pada masa Perang Dunia, ditambah lagi Tarakan termasuk daerah tujuan saat terjadinya perang dunia kedua.
Tidak hanya sumber daya alamnya yang menjadi incaran, tetapi juga untuk keperluan dalam peperangan. Tarakan dianggap daerah yang strategis dan bisa dijadikan pangkalan militer saat itu.
Jenis ranjau berbeda-beda, ada yang dipasang melayang dan di dasar laut yang berada pada radius 15 mil dari garis pantai dan semua ranjau bisa saja aktif.
Selain itu, peta laut yang terdapat ranjau pada posisi tersebut bisa dipastikan benar karena peta yang bersifat internasional dengan ketentuan yang berlaku juga internasional.
“Tentu masih aktif (ranjaunya). Bisa dinyatakan klir kalau sudah dibersihkan. Kalau untuk membersihkannya, sebenarnya pengajuannya ke Mabes Angkatan Laut. Kalau anggaran, nanti akan diperhitungkan karena juga membutuhkan peralatan untuk sounding, mencari ranjaunya. Butuh waktu lama, itu karena wilayahnya luas, ya kira-kira itu 50 hari,” ungkap Zaenal.
Petani rumput laut pun diminta tidak melakukan aktivitas di wilayah yang sudah disebutkan dalam peta masih terdapat ranjau terutama dalam memberikan tanda atau memasang pancang rumput laut di lokasi tersebut. Bahkan pihaknya pun selama ini tidak pernah beraktivitas di wilayah yang sudah ditandai tersebut.
TNI terus waspada dan mengantisipasi jika terjadi kondisi berbahaya di lokasi diduga terdapat ranjau. ”Luas di perairan Tarakan ini dari ujung utara sampai ke timur sekitar 15 mil dari bibir pantai. Kapal-kapal juga sudah diatur tidak lewat situ, yang disitu kan petani rumput laut saja,” papar Zaenal.
Sekretaris Asosiasi Pengusaha Rumput Laut Kota Tarakan, Sirajjudin saat ditemui terkait masalah ranjau ini mengatakan mereka sudah menerima kabar agar tidak melakukan aktivitas menebar bibit rumput laut di lokasi yang sudah ditandai adanya ranjau.
“Waktu pertemuan dengan Dinas Perikanan dan Kelautan serta TNI Angkatan Laut, ditampilkan petanya. Tapi sulit mau dilakukan. Kan isu ranjau ini baru berkembang. Sementara histori soal ranjau ini sudah lama, kenapa tidak dari dulu,” ujar Sirajjudin dengan nada tanya.
Asosiasi yang dipimpinnya memerlukan informasi lebih jelas terkait kejelasan waktu. Terlebih lagi demi kelangsungan hidup, petani rumput laut masih tetap beraktivitas di wilayah tersebut. Dalam pertemuan beberapa waktu lalu, pihak AL juga telah mengimbau agar tidak membuat atau menebar bibit rumput di wilayah tersebut. Namun masih terkendala anggaran untuk pihak ketiga.
“Ya katanya mau ada penyelaman dulu, pihak ketiga mungkin karena melibatkan alat canggih. Tapi pertanyaannya sampai kapan. Ada statement petani juga saat rapat itu ‘orang mengutamakan perut’ dibanding yang begitu. Itu kan istilahnya area kita tidak tahu titik tertentu di mana. Lagipula selama ini cuma disebut area, dan petani itu tidak semuanya tahu,” tutup Sirajjudin.
Editor: Aspian Nur