“Laporan nelayan pancing rawai lost kontak sudah 4 malam belum balik. Jumlah ABK (anak buah kapal) lima orang, semua warga Kelurahan Selumit Pantai. Perahu tidak bawa jangkar, bekal yang dibawa, perkiraan 2 hari,” ujar Rustan, seorang kerabat nelayan yang hilang dilansir dari Korankaltara.com Jumat (8/7/2022) hari ini.
Kepala Kantor SAR Tarakan, Syahril melalui Kasi Operasi dan Kesiapsiagaan Dede Hariana menduga terjadi kecelakaan kapal Putra Senjai Jaya 2 dengan mesin 70 pk.
Lost contact dilaporkan pihak keluarga Fatahudin antara perairan Tarakan dan Bunyu dengan POB (person on board).
“Waktu kejadian sekira Pukul 11.00 WITA hari Minggu. Kami terima informasi sekira pukul 13.30 WTA Kamis (7/7/2022) kemarin,” jelas Dede,” ujarnya.
Tim pencarian dengan satu unit Rigid Inflatable Boat (RIB) diturunkan, dibantu alat Aquaeye dan Echosounder.
Sementara untuk kondisi cuaca berawan, arah angin Timur Laut-Tenggara dengan kecepatan angin sekitar 2 hingga 15 Knot dan tinggi gelombang 0,5 hingga 1,25 meter.
Setelah dilakukan pencarian, sekira Pukul 16.00 Wita diketahui ada komunikasi keluarga dengan nakhoda kapal, Kahar yang mengatakan mesin macet di sekitar Tana Kuning, Kabupaten Bulungan sekitar 40 Mil.
“Makanya kami telusuri mengitari Tana Kuning. Lokasinya jauh, ditambah kami ada kendala cuaca dan ombak tinggi,” tuturnya.
Lokasi awal diduga lokasi hilangnya kapal dengan informasi posisi kapal terbaru sangat jauh terutama dengan kondisi sudah hampir malam.
Pencarian hari pertama ditutup sekira pukul 18.00 Wita, mengingat jarak pandang yang terbatas.
Selain itu, nakhoda kapal juga sulit dihubungi karena sinyal hilang. Komunikasi menggunakan jaringan telepon seluler masih tidak bisa dilakukan.
“Tinggi gelombang dan jarak pandang karena sudah memasuki malam hari. Hambatan cuaca ini ditambah faktor lainnya. Kami juga melakukan komunikasi dengan nelayan yang melakukan pencarian ikan di wilayah Tana Kuning maupun yang kami temui di perjalanan. Apakah itu kapal nelayan, kapal negara atau kapal dengan channel marine mungkin tahu ada kapal melintas,” pungkas Dede.
Editor: Aspian Nur