“Kami berharap melalui IDI (Ikatan Dokter Indonesia) untuk memfasilitasi pemenuhan kebutuhan dokter di daerah karena distribusi dokter seharusnya bisa merata ke seluruh daerah,” kata Syarwani dilansir dari laman Korankaltara.com Senin (27/6/2022) hari ini.
Adanya peluang beasiswa untuk menempuh pendidikan dokter spesialis, melalui kementerian kesehatan tentu menjadi angin segar. Namun tentunya juga harus ada komitmen yang bersangkutan, jangan sampai setelah mendapatkan gelar spesialis tetapi tidak mau mengabdi di Bulungan.
“kami perlu SDM dokter, ada 74 desa dan 10 kecamatan yang perlu dilayani tenaga kesehatan. Selama ini kebanyakan hanya ada di Puskesmas yang ada di ibukota kecamatan. Bagaimana yang jauh, kalau hanya berharap Posyandu, itu juga belum tentu ada dokternya. Adanya peluang pendidikan itu juga ada fakta intergtas yang mana selesai pendidikan harus kembali mengabdi,” sebut Syarwani.
Padahal diharapkan setelah mendapatkan pendidikan kembali mengabdi, meskipun itu pembiayaan dari APBN, tetapi rekomendsinya dari Pemerintah Bulungan, terlebih selama pendidikan meninggalkan tempatnya bekerja sementara waktu.
Alternatif sementara, dengan kebutuhan tenaga dokter yang masih sangat besar, pihaknya masih memungkinkan sistem kontrak sebagai solusi jangka pendek. “Kami berharap dari IDI bisa menjembatani dan ada solusi untuk ini,” ucap Syarwani.
Sementara Ketua IDI Pusat Mohammad Khumaidi mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan kekurangan dokter di daerah, seperti produksi dan distribusi dokter. Problem saat ini adalah distribusi dokter yang belum merata.
“Kami akan dorong distribusi ini, untuk mendorong pelayanan kesehatan di seluruh daerahdaerah harus sama. Termasuk dukungan dan upaya kita memenuhi tenaga dokter spesialis di Bulungan,” kata Khumaidi.
Terkait kebutuhan dokter sendiri, saat ini untuk dokter spesialis, dikatakan Direktur RSUD dr Soemarno Sosroatmodjo Kapuas, Kalimantan Tengah yaitu dr. Surya Tan, saat ini ada 27 spesialis yang bertugas dan pada dasarnya kebutuhan terpenuhi.
Namun demikian, setiap spesialis hanya diisi satu orang dokter, padahal seyogianya diisi 2 dokter, sehingga ketika satu berhalangan hari saling bergantian.
“Memang masih perlu tambahan, dan kalau untuk saat ini yang benar-benar tidak ada adalah dokter spesialis cuci darah, padahal untuk fasilitas sudah disiapkan. Ini juga sedang kami usahakan, semoga bisa segera terisi,” harap dr Surya.
Editor: Aspian Nur