“Itu terjadi di Tanjung Aru, Sebatik Timur. Jalan semenisasi yang sebelum rusak karena abrasi, saat ini sudah hilang tergerus air,” kata Mulyadi dilansir dari laman Korankaltara.com Kamis (23/6/2022) hari ini.
Jika digabung di tiga kecamatan, panjang abrasi di bibir pantai sudah mencapai total 17 kilometer, mulai dari Sebatik Induk, Sebatik Timur dan Sebatik Utara. Hanya saja, diakuinya terparah abrasi terjadi di Sebatik Timur.
“Kalau tidak salah, di sana sudah ada 72 rumah yang rusak karena abrasi. Bahkan tahun lalu itu ada yang ambruk,” ungkap Mulyadi.
Untuk upaya pencegahan, saat ini sudah dilakukan perbaikan, hanya saja untuk di Tanjung Aru belum ada perbaikan sama sekali.
“Kalau rumah warga yang rusak sudah ada kami usulkan, tapi sampai saat ini belum ada jawaban dari pusat. Kemungkinan berkasnya belum lengkap, karena ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi, salah satunya status tanggap darurat, kita kan belum terkait abrasi itu,” paparnya.
Sementara usulan anggaran tahun 2021 hingga 2020 sebagian sudah terealisasi, sebab dari Rp95 miliar yang diusulkan, baru sekitar 45 persen terealisasi.
“Itu untuk penahan gelombang yang kemarin dikerjakan. Kalau infrastruktur dan lainnya belum terealisasi,” jelas Mulyadi lagi.
Di proposal usulan BPBD Nunukan menambahkan kegiatan bersifat lingkungan, seperti penanaman rumput laut lamun yang saat ini terus diupayakan.
“Rumput lamun dipilih karena terbilang kuat menahan kuat gelombang. Posisinya dia ini berada di antara pohon mangrove dan terumbu karang,” jelasnya.
Akar dari rumput lamun ini berkisar 5 sampai 6 meter. Hal inilah yang bisa dilakukan untuk mencegah pergeseran tanah di bibir pantai atau abrasi. “Jadi, kehadirannya di situ sangat penting,” ucap Mulyadi.
Ditanya soal adanya galian c atau penambang pasir ilegal yang memperparah abrasi, dia tak bisa berkomentar lebih jauh lantaran bukan kewenangannya.
“Tapi, pengaruh besar itu bukan dari tambang itu saja, tapi banyak faktor. Pertama, gelombang ekstrem, tanaman kelapa sawit dan sebagainya,” ujarnya.
Kelapa sawit berpengaruh lantaran dapat menyerap air lebih banyak. Bahkan, satu pohon bisa sampai 20 hingga 30 liter per hari. “Akibatnya, unsur air menipis dan membuat tanahnya menjadi labil sehingga berpotensi abrasi dan longsor,” pungkas Mulyadi.
Editor: Aspian Nur