Banyaknya jalan tikus di wilayah pesisir membuat pengawasan juga sulit dilakukan, terutama area masuknya kapal-kapal yang diduga membawa masuk sabu ke Bumi Paguntaka menggunakan jalur sungai kecil.
Selain itu daerah pesisir juga banyak gang kecil dengan akses jalan kayu yang tidak bisa dilewati mobil. “Patroli yang kami lakukan, apalagi dari Satuan Sabhara juga terkendala dengan jalan di pesisir yang aksesnya terbatas sehingga banyak dimanfaatkan pelaku untuk mengedarkan narkotika di daerah pesisir,” ungkapnya.
Selain kurangnya pengawasan, untuk masuknya narkoba melalui jalur laut juga mudah. Kepadatan penduduk dengan nelayan yang keluar masuk dan sumber daya manusianya kurang juga menambah kondisi itu terjadi yang membuat warga mudah dipengaruhi bandar sabu, digalang untuk melakukan kegiatan narkotika dan dijanjikan upah yang besar.
Dengan pekerjaan yang dianggap mudah, hanya berjualan sabu dan upah yang menjanjikan, akhirnya banyak warga yang mudah terpengaruh dan mudah direkrut menjadi jaringan peredaran narkotika.
Ada beberapa kendala yang dihadapi di lapangan, diantaranya masyarakat di pesisir sumber daya manusianya kurang, sehingga kurang terbuka kepada apparat selain itu banyak juga warga yang menolak bekerjasama.
“Bahkan banyak juga yang takut melaporkan adanya peredaran narkotika di wilayahnya. Selain itu, warga juga tidak mau menjadi saksi di persidangan. Mungkin banyak nelayan, jadi tidak mau waktunya tersita untuk menjadi saksi. Padahal narkoba ini sudah merupakan ancaman yang serius apalagi di wilayah Tarakan,” pungkas Amiruddin.
Editor: Aspian Nur