TPT sendiri merupakan indikator untuk mengukur tenaga kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja dan menggambarkan kurang termanfaatkannya pasokan tenaga kerja dan jadi parameter resmi yang digunakan secara nasional di Indonesia.
TPT berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) terbaru berada di angka 4,62 persen. Berdasarkan jenis kelamin, TPT laki-laki sebesar 4,09 persen, atau lebih rendah dibanding TPT perempuan sebesar 5,70 persen. TPT laki-laki Februari 2022 mengalami penurunan sebesar 0,14 persen poin.
“TPT laki-laki juga mengalami penurunan dibandingkan tahun 2020. Sedangkan perempuan mengalami kenaikan sebesar 0,36 persen poin,” kata Tina dilansir dari Korankaltara.com Selasa (31/5/2022) hari ini.
Sementara itu, berdasarkan tempat tinggal, TPT di wilayah perkotaan tercatat di angka 6,05 persen sementara daerah perdesaan hanya 2,72 persen. Jika dibandingkan Februari 2021, TPT di dua wilayah ini masing-masing mengalami penurunan.
Secara umum, BPS tidak lagi merilis mengenai jumlah detail jiwa warga di daerah yang masuk kategori pengangguran. Namun diterangkan jika TPT di angka 4,62 persen menunjukkan adanya 4 dari 100 angkatan kerja yang dalam kondisi menganggur.
Tina turut memaparkan, ada 20.660 penduduk usia kerja di Kaltara yang masih terdampak pandemi Covid-19. Terdiri dari 3.272 orang pengangguran yang diakibatkan pandemi. Kemudian 713 orang menjadi kelompok bukan angkatan kerja (BAK) karena faktor yang sama.
“Komponen tersebut merupakan dampak pandemi Covid-19 pada mereka yang berhenti bekerja,” kata Tina.
Ada 1.137 orang yang sementara tidak bekerja karena Covid-19. Kemudian 15.538 penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena Covid-19.
“Kondisi itu merupakan dampak pandemi Covid-19 yang dirasakan oleh mereka yang saat ini masih bekerja,” paparnya.
Kendati demikian, angka yang tercatat di bulan ini mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pada Februari 2021 tercatat penduduk usia kerja di Kaltara yang mengalami dampak pandemi mencapai 52.952 orang atau sekitar 10 persen dari total penduduk usia kerja keseluruhan. “Jika dibandingkan tahun lalu, ada penurunan sekitar 32 ribu orang,” imbuhnya.
Secara detail, tiga dari empat komponen penduduk usia kerja yang terdampak pandemi mengalami penurunan.
Namun jumlah pengangguran karena faktor itu justru mengalami peningkatan. “Komponen pengangguran karena pandemi Covid-19 mengalami kenaikan 696 orang jika dibandingkan Februari 2021,” ujar Tina.
Berdasarkan jenis kelamin, penduduk usia kerja yang terkena dampak pandemi Covid-19 terdiri dari 11.458 laki-laki dan 9.202 orang perempuan. Penduduk usia kerja laki-laki yang terdampak pandemi mendominasi seluruh komponen, kecuali komponen BAK akibat pandemi.
“Jika dilihat dari daerah tempat tinggal, penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19 lebih banyak di daerah perkotaan dibandingkan perdesaan. Di daerah perkotaan ada sebanyak 12.315 orang, sedangkan di daerah perdesaan sebanyak 8.345 orang,” sebutnya.
Koordinator Fungsi Statistik Sosial BPS Kaltara, Basran menambahkan, TPT dari tamatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi yang paling tinggi.
Pada periode Februari 2022 di angka 10,14 persen, atau ada 10 dari 100 orang lulusan SMK yang menjadi pengangguran. “Dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya, TPT dari SMK paling tinggi,” kata Basran.
Sementara itu, TPT yang paling rendah adalah mereka dengan pendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah, yaitu sebesar 1,62 persen. Dibandingkan Februari 2021, kategori pendidikan yang mengalami kenaikan TPT adalah SMA dan SMK. “Masing-masing naik sebesar 4,02 persen poin dan 6,89 persen poin,” jelasnya.
Adapun, jika dibandingkan Februari 2020, terdapat dua tingkatan pendidikan yang mengalami penurunan, yakni SD ke bawah dan perguruan tinggi. Masing-masing turun sebesar 1,84 persen poin dan 6,40 persen poin.
Editor: Aspian Nur