Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarakan, M. Sulam Khilmi mengatakan, masa transisi cuaca di Indonesia saat ini terbilang cukup panjang.
Termasuk di Kaltara seperti yang dirasakan dalam beberapa hari terakhir. Dimana hampir sepanjang hari matahari tertutup awan.
“Potensi terjadinya cuaca ekstrem meningkat, seperti yang dirasakan 4-5 hari belakangan di Tarakan. Hujan dengan durasi panjang dari dini hari hingga sore hari. Ini dipengaruhi oleh peningkatan massa uap udara basah dari Samudera Pasifik Timur, menuju ke arah Samudera Pasifik Barat,” kata Sulam dilansir dari Korankaltara.com Sabtu (14/5/2022) hari ini.
Tingginya penguapan air muka laut meningkatkan jumlah awan hujan yang jadi faktor panjangnya durasi hujan akhir-akhir ini.
BMKG selalu koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kami selalu koordinasi dengan pihak terkait. Kami selalu rilis hasil prakiraan cuaca. Bila ada daerah-daerah di Kaltara yang diprediksi terjadi hujan lebat disertai angin kencang, kami selalu rilis ke grup (media social). Fenomena ini ada potensi tanah longsor, banjir, dan lain sebagainya. Kami mengimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada terhadap cuaca saat ini,” paparnya.
Selain di darat, potensi terjadi cuaca ekstrem juga bisa terjadi di laut dengan naiknya gelombang.
Dalam pencitraan satelit, kondisi saat ini bisa berpotensi menyebabkan tinggi gelombang mencapai 2 meter, cukup berbahaya bagi kapal kecil.
“Hujan dan angin kencang juga bisa menimbulkan kenaikan gelombang, ini harus diwaspadai terutama kapal-kapal kecil dan nelayan. Kalau kapal kargo masih terbilang cukup aman, tetapi dalam beberapa hari belakangan Kaltara masuk zona kuning,” urainya.
Kondisi ini masih akan terjadi hingga 7 hari ke depan. Bagi masyarakat yang melakukan aktivitas di laut harus lebih waspada karena cuaca bisa berubah kapan saja.
Editor: Aspian Nur