Seluruh patok ini memiliki empat tipe, yakni tipe A sebanyak 7 patok, tipe B ada 27 patok, type C ada 295 patok dan terbanyak tipe D ada 5.192 patok. Masing-masing patok ini juga memiliki ukuran yang berbeda.
Tipe A jaraknya 300 km, tebal 135 cm dan lebar 50 cm. Tipe B jaraknya 50 km, tebal 45,72 cm dan lebar 22,86 cm. Kemudian tipe C jarak 5 km tebalnya 36,48 cm dan tebal 19,16 cm. Terakhir tipe D itu jaraknya 100 meter, tebal 15,24 cm dan lebar 10,16 cm.
Dari hasil patroli patok, ada 5.118 patok dalam kondisi baik, sisanya rusak yang disebabkan faktor alam. Seperti tertimpa pohon ada 21 patok, tenggelam ada 3 patok, kondisi miring ada sekitar 10 patok, rusak ada 10 patok, patah ada 4 patok.
Tak hanya itu, pihaknya juga menemukan ada sekitar 178 patok yang hilang atau tidak ditemukan di titik koordinatnya. Patok hilang kebanyakan terjadi di SKK 3 Kecamatan Lumbis.
“Jadi, terlepas dari faktor alam, mungkin tertimbun, longsor dan sebagainya, kami juga tidak tahu. Namun yang jelas, saat kami ke titik koordinatnya memang tidak ditemukan. Kami sudah mencari di sekitaran koordinat tetap tidak ditemukan,” jelas Sutisna dilansir dari Korankaltara.com Selasa (10/5/2022) hari ini.
Patroli di wilayah Lumbis memang cukup menantang karena lokasi patok berada di medan yang ekstrem seperti tebing jurang maupun sungai di tengah hutan.
“Kemarin kami sempat terhambat dengan drop off logistik karena tidak tersedianya helikopter yang masih perbaikan. Namun tak lama, baru masuk menggunakan heli. Itu ada dua kali dorongan logistik di dua titik,” jelas Sutisna lagi.
Namun dari seluruh patok di 29 pos yang ada, kata dia, ada dua pos gabungan Malaysia yang tidak dipatroli, karena dua pos yang berada di Malaysia itu belum diisi oleh Satgas. Kedua pos itu yakni Gabma Bakelalan yang memiliki 455 patok dan Gabma Seliku ada 305 patok.
“Itu kalau diisi, dari Malaysia juga ada mengisi, setelah itu baru kami patroli bersama-sama. Namun karena kami tidak isi makanya kami tidak patroli,” pungkasnya.
Editor: Aspian Nur