Terkait hal ini, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Utara Usman mengatakan, mereka belum mendapat laporan adanya masyarakat yang mengalami kasus ini. “Sampai saat ini belum ada, mudah-mudahan tidak ada juga di Kaltara,” harap Usman dilansir dari laman Korankaltara.com Kamis (5/5/2022) hari ini.
Secara teknis, upaya pencegahan awal melalui pengamatan atau pemantauan di pintu-pintu kedatangan. Sesuai SE yang diterbitkan Kemenkes, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) telah diminta melakukan langkah mitigasi.
Langkah mitigasi tersebut melalui peningkatan pengawasan terhadap penumpang dan kru, alat angkut, barang bawaan, vektor, dan lingkungan pelabuhan dan bandara, terutama yang berasal dari negara terjangkit saat ini. Kemudian peningkatan upaya promosi kesehatan bagi masyarakat di sekitar wilayah pintu masuk
negara.
Selanjutnya, mengkoordinasikan pelayanan kesehatan dengan Dinas Kesehatan dan rumah sakit setempat. Lalu berkoordinasi dengan Otoritas Imigrasi dalam penelusuran data ketika ditemukan kasus dari warga negara asing.
KKP juga diminta berkoordinasi dengan pihak maskapai penerbangan dalam hal mendeteksi penumpang dengan sindrom jaundice. Kemudian segera memberikan notifikasi apabila terjadi peningkatan kasus sindrom jaundice akut maupun menemukan kasus sesuai definisi operasional kepada Dirjen P2P.
“Upaya awal yang dimaksimalkan memang melalui pintu-pintu masuk. Saat ini KKP ada upaya pengamatan yang dilakukan, khususnya kepada anak-anak yang rentan terkena,” papar Usman.
Pengelola rumah sakit di Kaltara juga telah diminta menindaklanjuti isi dari SE Kemenkes.
Khususnya dengan meningkatkan kewaspadaan melalui pengamatan semua kasus sindrom jaundice akut yang tidak jelas penyebabnya dan ditangani sesuai tata laksana, serta dilakukan pemeriksaan laboratorium.
Kemudian melakukan hospital record review terhadap kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya sejak 1 Januari 2022. “Kalau ada kejadian seperti itu, rumah sakit juga diminta segera melaporkannya,” imbuh Usman.
Informasi yang awak media himpun, gejala klinis pada kasus yang teridentifikasi hepatitis misterius adalah hepatitis akut dengan peningkatan enzim hati, sindrom jaundice (penyakit kuning) akut, dan gejala gastrointestinal atau nyeri abdomen, diare dan muntah-muntah. Sebagian besar kasus tidak ditemukan adanya gejala demam.
Kemenkes meminta ketika ada anak-anak yang memiliki gejala kuning, sakit perut, muntah-muntah dan diare mendadak, buang air kecil berwarna teh tua, buang air besar berwarna pucat, kejang, hingga penurunan kesadaran, untuk segera memeriksakan ke fasilitas layanan kesehatan terdekat.
Editor: Aspian Nur